*Asal muasal ucapan minal ‘aa-idiin walfaa-iziin, sebuah penelusuran redaksional.*

July 8, 2016 by abahzaky2014

Copas dari Grup sebelah 
*Asal muasal ucapan minal ‘aa-idiin walfaa-iziin, sebuah penelusuran redaksional.*
Ucapan “minal ‘aa-idiin wal faa-iziin” [من العائدين والفائزين] tidak dikenal di negara-negara berbahasa arab. Ucapan ini barangkali khas Indonesia yang dikreasikan oleh seorang atau beberapa ulama yang tidak dikenal tetapi gaungnya sungguh meluas secara luar biasa. Apalagi bangsa ini senang dengan ungkapan-ungkapan yang berirama sehingga sering dipantunkan dengan ucapan tambahan: mohon maaf lahir dan batin.
Bagaimana ucapan ini dapat terbentuk dengan rangkaian seperti yang kita kenal sekarang? Mari kita perhatikan kata per kata. Min [من] berarti dari atau bagian dari. ‘Aa-idun [عائد] adalah partisif aktif dari akar kata ‘Aada [عاد] yang berarti kembali, berbalik, mengulang dan merestorasi. Dengan demikian, ‘aa-idun adalah yang kembali, yang pulang. Faa-izun [فائز] adalah partisif aktif dari akar kata faaza [فاز] yang berarti sukses, mencapai kemenangan, memenuhi target, memperoleh yang diinginkan dll. Dengan demikian Faa-izun adalah yang sukses atau pemenang.
Minal ‘aa-idin wal faa-izin [من العائدين والفائزين] jika diterjemahkan akan berarti dari/bagian dari [orang-orang] yang kembali/pulang dan [orang-orang] yang sukses/pemenang. Hal ini adalah kalimat tidak sempurna, ungkapan yang tidak tuntas. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana seharusnya kalimat yang benar?
Boleh jadi ulama yang mengkreasikan ucapan ini mendapat inpirasi dari Al Quran dalam QS As Syu’araa’ 26:85

واجعلني من ورثة جنة النعيم

Terjemahan: Dan jadikan aku bagian dari pewaris-pewaris surga yang penuh kenikmatan.
Ungkapan ini adalah do’a nabi Ibrahim AS ketika berdialog dengan bapaknya.
Maka dengan analogi ini ulama kemudian menyusun do’a yang serupa sehingga ucapannya menjadi:

ربّنا اجعلنا من العائدين والفائزين atau اللهمّ اجعلنا من العائدين والفائزين 

[rabbanaj’alnaa minal ‘aa-idiin walfaa-iziin] atau [allahummaj’alnaa minal ‘aa-idiin walfaa-iziin]
Terjemahan: Tuhan kami / Wahai Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang memperoleh kemenangan.
Bagaiman korelasinya antara ucapan ini dengan ‘iedul Fithri dan Ramadhan. Kembali ke mana? Kemenangan apa? Hari raya puasa dalam bahasa arab adalah ‘Iedul fithri [عيد الفطر]. Kata ‘ied berasal dari akar kata yang sama dengan ‘aa-idun [عائد] yaitu ‘aada [عاد]. Dengan demikian kata ‘ied dapat diartikan perayaan kembalinya. Kata fithr berasal dari akar kata fathara [فطر] yang berarti menciptakan, membelah, memecah berkeping-keping dll. Harap berhati-hati dengan menerjemahkan akar kata ini karena akan banyak interpretasi. Dengan demikian ‘iedul fithri juga mempunyai banyak arti di antaranya: perayaan kembali kepada keadaan penciptaan semula, yaitu manusia kembali kepada fitrahnya sebagaimana penafsiran para ulama. Tetapi, dapat juga diartikan perayaan kembali orang berbuka, artinya orang sudah dibebaskan dari kewajiban berpuasa. Arti mana yang dipilih, tergantung kepada kecenderungan masing-masing orang.
Dalam sejarah islam, banyak kemenangan terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana juga proklamasi Republik Indonesia terjadi pada bulan yang sama. Akan tetapi, kemenangan yang dimaksud di sini adalah kemenangan dalam mengatasi hawa nafsu. Dengan berpuasa orang berlatih mengendalikan hawa nafsunya. Apalagi, dengan berpuasa terus menerus selama sebulan penuh, maka diharapkan orang sudah sukses dan menang melawan kecenderungan buruk hawa nafsunya.
Jika ingin do’anya secara lengkap maka susunannya boleh jadi seperti:

ربّنا اجعلنا من العائدين الى فطرهم والفائزين عن نفسهم 

[rabbanaj’alnaa minal ‘aa-idiina ilaa fithrihim wal faa’iziina ‘an nafsihim]

Terjemahan: Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrahnya dan orang-orang yang sukses

mengendalikan hawa nafsunya.
Ketika do’a ini diucapkan kepada orang lain dengan tujuan saling mendo’akan maka redaksinya adalah:

جعلنا الله من العائدين والفائزين

[ja’alanallaah minal ‘aa-idiin wal faa-iziin]

Terjemahan: Allah telah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali [kepada fitrah] dan orang orang yang menang [dalam

mengatasi hawa nafsu]. 
Ungkapan dalam bentuk past tense adalah keyakinan bahwa do’a tersebut terkabul yang bunyinya: semoga Allah menjadikan kita termasuk orang2 yg kembali dalam fitrah dan orang2 yg sukses mengendalikan hawa nafsu.
Karena dirasakan terlalu panjang, maka segmen ja’alanallah dihilangkan. Agar ada irama, kemudian ditambahkan: mohon maaf lahir dan batin. Sehingga yang asalnya suatu ungkapan do’a berubah menjadi “minal ‘aa-idiin walfaa-iziin, mohon maaf lahir dan batin” sebagai ungkapan pemanis bibir dalam pergaulan.
Bagaimana hukumnya dalam mengucapkan hal ini? Entah itu sebagai do’a atau pemanis bibir, setiap orang selalu mempunyai argumen yang berbeda-beda. Dalam hal ini, penulis tidak akan membahasnya.
Wallahu a’lam
Cimahi, 1 Syawwal 1437 H,