Sekali Lagi, tentang Taqwa

June 6, 2016 by abahzaky2014

Kiriman jamaah MJT dan dilanjutkan dengan hasil copas dari grup wetan.

 

•TAKWA•
Indikator Logika :

•Jika diantara nafsu syaitan dan tuntunan syariah, tuntunan syariah yang dimenangkan maka hal tersebut merupakan salah satu tanda Takwa.
{QS Al Baqarah (2):183} ‘Hai orang-orang yg beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa’

 

TAKWA ~» QS Al Baqarah (2):177. 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah :

•BERIMAN kepada Allah, 

~Hari kemudian, 

~Malaikat-malaikat, 

~Kitab-kitab, 

~Nabi-nabi & 

•MEMBERIKAN HARTA yang dicintainya kepada : kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir ( yang memerlukan pertolongan ) dan orang-orang yang meminta-minta, serta ( memerdekakan ) hamba sahaya, 

•MENDIRIKAN SHALAT & 

•MENUNAIKAN ZAKAT, & 

•orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan 

•orang-orang yang SABAR dlm kesempitan, penderitaan & dlm peperangan. 

Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang BERTAKWA.
•TAKWA bernakna menjalankan perintah Agama dan meninggalkan larangannya, secara Ikhlas.  
Prof Dr HAMKA pada Tafsir Al Azhar surat Al-Baqarah (2):177. Arti Takwa yaitu pemeliharaan. Itulah orang yang selalu memelihara hubungannya dengan Allah. Mereka selalu berusaha, sehingga martabat imannya bukan menurun, melainkan selalu mendaki kepada yang lebih tinggi.

Karena takwa itulah yang meninggikan akhlak, menimbulkan budi pekerti, dermawan, peneguh janji dan sabar menderita.
•Semoga kita tergolong orang-orang yang bertakwa• Aamiiin. 
Jakarta, 1 Ramadhan 1437.H/6 Juni 2016 Miladiyah.
Dari Grup Wetan

MEMBANGUNKAN IMAN YANG TERTIDUR

(Seri Tafsir Ayat-ayat Ramadhan)

Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
Insyaallah, Ramadhan kali ini, saya akan membahasa tafsir ayat-ayat Ramadhan secara berseri, yaitu surah Al-Baqarah ayat 183 sampai ayat 188. Berramadhan akan lebih nikmat dengan memahami ayat-ayatnya. Ini pembahasan yang pertama. Saya beri judul: “Membangunkan Iman yang Tertidur.” Terinspirasi dari penggalan pertama surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa. Yaitu:
ياايها الذين آمنوا

“Wahai orang-orang yang beriman….”
Kata “wahai,” dalam bahasa Arab, atau lebih khusus lagi, Ilmu Nahwu, adalah Huruf Nida, yaitu huruf untuk memanggil. Yang dipanggilnya dinamakan Munada. Sedang kalimatnya disebut Nida. Kosakata bahasa Arab untuk “wahai,” adakalanya ya (يا), dan adakalanya Hamzah (أ/a), tergantung jauh dan dekatnya Munada (yang dipanggil). Apabila jauh, maka dengan ya (يا), dan jika dekat, maka dengan “a” (أ). Bahkan, selain dengan ya (يا), untuk Munada yang jauh, kadang pula dengan ay (أي), aya (أيا), dan haya (هيا).
Pada ayat ini, Huruf Nida yang digunakan adalah ya (يا). Berarti posisi yang sedang dipanggilnya berada di tempat yang jauh, atau seolah-oleh jauh, seperti karena sedang tertidur atau lupa. Yang dipanggil dengan menggunakan ya (يا) adalah ayyu (أي) yang disebut Nakirah Maushufah. Yakni sesuatu yang abstrak dan umum yang disifati oleh kata al-lazdina (الذين), yaitu penyandang sifat yang mesti selalu ada setelahnya, yaitu amanu (آمنوا) yang disebut Shilah. Rangkaian Munada menjadi bertambah panjang dengan masuknya ha (ها) antara ayyu (أي) dan al-ladzina (الذين). Panjangnya rangkaian Munada menunjukan yang dipanggil adalah totalitas manusia seutuhnya yang meliputi lahir dan batin. Panggilan tersebut merangsek masuk kedalam, dan sangat dalam, secara perlahan, sampai menyentuh inti terdalam dari manusia, yaitu iman.
Al-Razi mengatakan, ya (يا) menandakan jauh dari Allah, sedang ayyu (أي) menandakan dekat dengan-Nya. Jauh dari Allah ibarat mati, dan dekat dengan-Nya ibarat hidup. Bertemunya ya (يا) dengan ayyu (أي) berarti bertemunya hidup dengan mati. Kondisi ini tak lain adalah kondisi tidur. Oleh karenanya didatangkanlah ha (ها) yang disebut Ha Tanbih untuk membangunkan iman yang tertidur. Juga, menunjukan, mestinya manusia selalu tersadarkan, bahwa, seberapapun dia menjauh dari Allah, maka Allah selalu dekat padanya. Ali bin Abu Thalib mengatakan, ya (يا) adalah panggilan jiwa (نداء النفس), ayyu (أي) adalah panggilan hati (نداء القلب), dan ha (ها) adalah panggilan ruh (نداء الروح). Kalimat ya ayyuha (يا أيها) berati, yang dipanggil dari orang-orang yang beriman, adalah meliputi jiwanya, hatinya, dan ruhnya. Tampak, hati, yang disimbolkan dengan ayyu (أي) yang terletak antar jiwa (النفس) dan ruh (الروح) tak lain adalah totalitas alladzina amanu (الذين آمنوا). 
Dengan kata lain, al-ladzin (الذين) menggambarkan manusia sebagai makhluk biologis (fisik) yang dilengkapi dengan indra-indra yang sempurna yang, dengannya, ia dapat merespon panggilan. Di dalam fisik yang berindra ada hati yang mengambil posisi di tengah-tengah antara jiwa dan ruh. Dan, di dalam hati ada iman. Panggilan pada mulanya jauh, tapi terucap panjang sepanjang ukuran terpanjang Mad Ja’iz Munfashil pada huruf Alif dari kata ya (يا) yang bertemu dengan Hamzah Ayyu (أي), direspon oleh indera lahir (telinga), lalu masuk kedalam jiwa dan ruh hingga keduanya terbangungkan. Panggilan pun masuk kedalam hati. Di dalamnya ada iman yang sedang tidur. Iman pun bangun dan langsung memberi efek tulus, semangat, dan aktivitas positif pada fisik. Kata al-ladzina (الذين) mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan amanu (آمنوا), yaitu hubungan iftiqar, yakni karena al-ladzina (الذين) sangat membutuhkan amanu (آمنوا). Seandainya tidak ada amanu (آمنوا), maka al-ladzina (الذين) tidak akan pernah ada. Inilah makna kemaushulan pada kata al-ladzina (الذين).
Nida, kata al-Razi, bukan khabari (kalimat berita), bukan bukan pula insya’i (kalimat perintah). Tapi kalimat yang tampil untuk membuktikan keberadaan, keutuhan, dan kualitas Munada (yang dipanggil) agar yang bersangkutan tergugah. Yaitu, dalam hal ini, orang-orang yang beriman sebagai “ayyuha.” Juga untuk memberitahukan bahwa yang hendak disampaikan setelah Munada sangat penting untuk kebaikan Munada. Ibn Mas’ud mengatakan, jika kamu mendengar Allah mengatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, maka buka pendengaranmu, karena berarti di dalamnya ada kebahagianmu, baik berupa perintah untuk kamu kerjakan maupun larangan untuk kamu tinggalkan.”
“Ya ayyuhalladziina aamanuu” terulang sebanyak 89 kali pada 20 surat dalam Al-Qur’an. 88 di antaranya menjadi pembuka ayat, sedang satu lagi di pertengahan ayat, yaitu di surah al-Ahzab ayat 56 tentang shalawat. Di surah al-Baqarah sendiri terulang 11 kali yang di antaranya pada ayat 183 ini. Hati diaduk-aduk di dalam ke-89 ayat tersebut. Dipaksa untuk bahagia. 
Yang tak luput dari pengamatan saya, adalah, dari kelima Rukun Islam, hanya puasa yang kewajibannya secara tegas diawali dengan panggilan “ya ayyuhalladzina aamanu.” Sedang, biasanya, yang diawali panggilan “ya ayyuhalladzina amanu” adalah ibadah Ghair Mahdhah, bukan ibadah spiritual murni. Hal ini, karena ibadah Ghair Mahdhah tampak seperti bukan ibadah, seakan, tanpa iman pun, bisa dilakukan. Sedekah, misalnya, bisa jadi, orang non-muslim banyak sedekahnya. Sedekah mereka tidak berbeda dengan sedekah orang mukmin. Karenanya, Allah panggil mereka (orang-orang mukmin) dengan “ya ayyuhalladzina amanu,” agar sedekah mereka berbeda dengan orang-orang non-muslim. Karena, tentu, yang sedekah karena iman lebih kuat dan lebih berkualitas dari yang tidak karena iman.
Alasan lain membuka ayat puasa dengan “ya ayyuhal ladzin aamanu,” karena kewajiban puasa hanya untuk taqwa, dalam arti, untuk menjadi kuat mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Benteng yang kuat dari api neraka, dan sebab terkuat untuk bahagia. Hal ini tidak dapat dicapai kecuali apabila dimulai dari hati. Takwanya hati (taqwa al-qulub. Puasa adalah hampa jika bukan dimulai dari hatinya yang puasa. Kekuatan ibadah seseorang tak hanya dilihat dari jumlah amalnya yang banyak, tapi dari aktifitas hatinya yang besar dan produktif. Satu rakaatnya Rasulullah Saw tentu lebih kuat dari jumlah rakaat seumur hidup saya. Satu ayat Al-Qur’an yang difahami oleh Abu Bakar lebih kuat dan lebih berbobot dibanding pemahaman seluruh Al-Qur’an dari saya. Ini karena bobot aktifitas hati yang berbeda. 
Puasa untuk takwa, dan takwa untuk iman. Karenanya, sebelum mewajibkan puasa, dibangunkan dulu hatinya dengan panggilan iman. Dengan kata lain, puasa adalah tentang bobot iman. Puasa yang dapat menghapus segala dosa yang telah lalu adalah puasa yang “imanan wah tisaban (إيمانا واجتسابا). Demikian pula, Tarawih yang menghapus segala dosa yang telah lalu adalah Tarawih yang “imanan wah tisaban.”
Oleh karenanya, para ulama menciptakan doa berbuka puasa dengan redaksi:
اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت

Ya Allah, hanya untuk-Mu aku puasa, hanya pada-Mu aku beriman, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka.
Tidak ditemukan riwayat hadits tentang doa berbuka puasa yang redaksinya persis seperti di atas. Yakni, yang mengandung kalimat “wa bika amantu (وبك آمنت).” Tapi, redaksi tersebut menjadi sesuai dengan bobot iman sebagai perpanjangan dari pemahaman “ya ayyihalladzina amanu,” karena berpuasa apalagi berbuka adalah kosong tanpa iman. Demikian pula dengan tarawih, para ulama mengarang sebuah doa yang disebut Kamilin di mana yang pertama kali dipinta adalah keutuhan iman. Karena ibadah Ramadhan, khususnya Puasa, tak lain adalah untuk iman, dari iman, dan karena iman, yang menjadikan ibadah-ibadah lain berbobot. Inilah salah satu alasan mengapa Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi: “… kecuali puasa, maka dia untuk-Ku, dan Aku akan membalasnya.”
Demikian

Wallaahu A’lam

Sadeng, 6 Juni 2016