Jangan Hanya Baca Buku Menu.

May 21, 2016 by abahzaky2014

Copas dari jamaah pengajian kampung sebelah…
“Hampir setiap hari aku membaca banyak nasihat dan pelajaran baik di buletin jum’at, koran, majalah, status jejaring sosial, hingga ke buku-buku keruhanian, namun mengapa aku tak juga bisa seperti apa yang ditulis?”
Syaikh tak menjawab. Ia mengambil buku resep masakan. “bacalah, sampai habis,” katanya. Seusai aku membaca, ia berkata lagi “ulangi, baca lagi sampai engkau paham dan kalau perlu hafal.” Esok harinya syaikh bertanya, “Bagaimana? Sudah bisa merasakan lezatnya masakan? Sudah kenyang?”
Aku terpaku, tahu apa yang dimaksudnya, namun sebelum aku bertanya lagi, ia melanjutkan, “Begitulah keadaanmu. Engkau membaca resep masakan, tetapi tak segera berangkat membeli bahan dan bumbu dan memasaknya sesuai petunjuk, atau tak lekas-lekas berangkat ke restoran yang menjualnya. Bagaimana kau bisa merasakan nikmatnya makanan dan manfaat gizinya? Jadi engkau secara tak sadar saat ini ‘merasa’ jadi baik hanya karena telah banyak membaca saran dan buku-buku, merasa sudah paham apa itu kebaikan dan kebajikan. Merasa diri lebih baik, kau tahu, adalah ilusi yang berbahaya. Pun saat engkau membaca kitab-kitab para sufi. Mereka, para sufi, menulis sesudah mereka sampai. Tetapi engkau terbalik. Engkau belum sampai, namun sudah membaca kitab-kitab yang ditulis dari hasil perjuangan hampir seumur hidup. Dan engkau merasa paham, merasa sudah menjadi sufi, lalu ke mana-mana membicarakan ajaran-ajaran mereka yang pelik, membahas hal-hal yang engkau belum merasakannya sama sekali. Bahkan menangisi dosamu saja engkau belum mampu, dan engkau masih saja mengulang dosa yang sama atau, lebih buruk lagi, melakukan dosa jenis lain setiap hari. Dan engkau ingin mengenal Allah dan masuk surga dengan pengetahuan dan amalanmu yang bercampur-campur dengan kebatilan?”
Aku kebingungan dan sedih.
Syaikh melanjutkan, “Yang engkau butuhkan adalah membersihkan diri secara lahir dan batin. Tetapi bagaimana sesuatu akan bersih jika tak dicuci. Guru ruhanimu itu dalam satu pengertian adalah seperti air, yang akan membantu membersihkan kekotoran jiwa. Kadang-kadang orang tertipu dengan perasaan malu atau takut bertemu dengan guru. Malu atau tidak, Allah tahu kekotoran jiwa hamba-Nya, lantas mengapa mesti malu bertemu guru? Siapa yang malu kalau begitu? ‘Malu’ atau ‘merasa kotor’ dalam konteks seperti itu, terkadang adalah dalih cerdik yang diciptakan oleh nafsu dengan membajak kesadaranmu tentang perasan berdosa; nafsu-lah yang selalu enggan bertemu dengan sesuatu yang bersih. Semestinya ia harus melawan perasaan yang menipu itu dan menguatkan hati untuk menemui gurunya. Bukankah salah satu tombo ati itu ‘wong ingkang soleh kumpulono?’ Dalam diri kaum arif billah, terkandung berkah yang bisa meluber dan sampai kepadamu melalui berbagai macam cara: bisa dengan pengajaran, doa, suri-tauladan, dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan, bahkan melalui wajah dan gerak-gerik mereka. Kanjeng Nabi berkata, ‘Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Alloh, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat.’ Karenanya meski tak bisa sering-sering, yang jelas paling tidak jangan tinggalkan kegiatan sowan ke orang-orang alim dan saleh, sebab mereka bisa menjadi wasilah yang membantu membersihkan dirimu, melembutkan hatimu, membukakan pengetahuan yang tersembunyi kepadamu. Ada berkah dalam pisowanan semacam ini – semacam upaya untuk ngalap berkah. Adapun berkah yang engkau peroleh mungkin tidak disadari, tetapi boleh jadi berkah itu sedemikian banyak, jelas dan terang sehingga engkau tak menyadarinya. Berkah semacam ini seperti udara, engkau hirup setiap hari sehingga mencegah kematian ruhanimu sekaligus menghidupkan kesadaran ilahiahmu secara perlahan sesuai kebutuhanmu. ”
Syaikh tersenyum, sepertinya ia tahu yang kurasakan, lalu mengajakku makan. Ia hanya mengambil beberapa suap dari sepiring nasi dan lauk yang kusiapkan, lalu berkata,

“atsarun mu’minin barokatun,” 

Sesudah itu ia beranjak pergi ke kamarnya.