Renungan Pagi Muhammad Sobari

March 15, 2016 by abahzaky2014

Copas dari Grup sebelah kulon.

 

Renungan pagi dari Mohamad Sobari…..
Langit tersenyum melihatnya menatap embun. Ia masih lugu dan mengira butiran bening yang memegang ujung daun itu hujan yang enggan karena malu kepada kupu kupu -sebagaimana tutur neneknya yang setia membawa cerita setiap senja.
Kala itu kampungnya masih hijau, semua orang bertani dilahannya sendiri dengan keberanian dan belum mengenal tisu, bibit hibrida, pestisida, pupuk kimia, senyawa tunas, roti keju apalagi mainan plastik. 
Kini kesunyian yang damai itu raib. Buruh menjadi lebih mulia dikepala setiap orang yang menyerahkan hidupnya tanpa syarat kepada cerobong asap. Sebuah kematian yang rapuh dari mimpinya yang besar, sebagaimana dirinya ya harus merantau demi kelayakan. 
Kemudian air matanya jatuh dengan rasa terluka. Dan ia menengadah langit lalu melihat malaikat mentertawinya diantara suara teriakan ribuan muslihat. Siapa pendosa dari kekacauan ini? Pikirnya meratap, lalu pergi untuk menjumpai tipuan yang lain.
(Edisi Wakoka Ponorogo padamu negeri ; menggagas istighosah agar pejabat tidak jujur diparkir Gusti Allah)