Renungan buat Penggemar WA, BBM dan media social

March 9, 2016 by abahzaky2014

Copas MJT grup

Posting. Habib Zaki Ibrahim
Renungan buat penggemar WA, BBM dan media sosial…

Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain begitu sampai di rumah.

Pada hari itu juga, saat saya sedang menelpon salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu. Tiba2 anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. Saat saya berbalik, hampir saja membuatnya jatuh. “Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!” teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Saat saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus, Allah berbisik, “Akan kusuruh malaikat mencabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang. Namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu.

Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu,” ujar Allah kepadaku.

Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yang datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan ada yang tidak berkomentar apapun atas kepergianku.

Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asyik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yang asyik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. Bos yang aku hormati hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit dan langsung pulang. Sementara kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.

Lalu kulihat anak-anakku menangis di pangkuan istriku. Yang kecil berusaha menggapai jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya.

Istriku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sekacau itu. Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilannya yang mengajakku mengobrol, sementara aku selalu sibuk dengan ponselku, dengan kolega-kolega dan teman-teman dunia mayaku. Lalu aku lihat anak-anakku, sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asyik dengan ponselku, saat mereka ribut meminta kutemani. Oh ya Allah… Ampunilah aku…

Lalu aku melihat tujuh hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku. Perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon-lelucon di grup, tanpa ada yg membahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.

Namun aku melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak-anakku bertanya dimanakah papa mereka? Aku melihat dia begitu lunglai dan pucat, kehilangan semangat hidup… Ya Allah, betapa hatiku hancur di lorong waktu ini…

Hari ke-40 sejak aku tiada… Teman WA, BB Group dan media sosialku lenyap secara drastis. Semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup. Bosku, teman-teman kerja, tidak ada satupun yang mengunjungiku ke kuburan ataupun sekedar mengirimkan doa untukku…

Lalu kulihat keluargaku… istriku sudah bisa tersenyum, tapi tatapannya masih kosong. Anak-anak masih ribut menanyakan kapan papanya pulang. Yang paling kecil masih selalu menungguku di jendela, menantikan aku datang…

Lalu 15 tahun berlalu… Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak-anakku. Sudah mulai keliatan guratan tua dan lelah di wajahnya. Dia tidak pernah lupa mengingatkan anak-anak jangan lupa ke kuburan papa dan jangan lupa selalu berdoa untuk papa di setiap sholatnya

Lalu aku membaca tulisan di secarik kertas milik putriku malam itu, dia menulis: “Seandainya saja aku punya papa, pasti tidak akan ada laki-laki yang berani tidak sopan denganku. Tidak akan aku lihat mama sakit-sakitan mencari nafkah seorang diri buat kami… Oh ya Allah… Kenapa Kau ambil papaku, aku butuh papaku Ya Allah…” Kertas itu basah, pasti karena airmatanya… Ya Allah… hatiku hancur melihatnya…

Sampai bertahun-tahun anak-anak dan istriku pun masih terus mendoakanku, agar aku selalu berbahagia di akhirat sana…

Lalu seketika aku terbangun… Dan terjatuh dari ranjang… Oh ya Allah, ternyata aku cuma bermimpi…

Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya. Masih aku lihat airmata di sudut matanya, kasihan sekali… terlalu kencang aku menghardiknya…

“Anakku, papa sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu. “Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papa, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” “Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku,” dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.

Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali aku sengaja berpura-pura tidak mendengarnya, bahkan pesan-pesan darinya sering aku anggap tak bermakna. Maafkan aku istriku, maafkan aku… Air mataku tak bisa kubendung lagi sambil memeluknya…

Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?

Teman-teman akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib-aib yang tidak sengaja kita lakukan…

Teman-teman dunia maya pun tak pernah membahas aku lagi seolah aku tidak pernah mengisi hari-hari mereka sebagai badut di grup atau media sosial…

Lalu aku rebahkan diri di samping istriku, ponselku masih terus bergetar, berpuluh-puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak… tidak…

Aku matikan ponselku dan kupejamkan mata…

Kumerenung… Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi mereka… keluargaku… keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakani kehilangan selama sisa hidup mereka…

“Kasihilah dan cintailah keluarga kita dengan segenap hati kita..”