kutipan ttg Islam , BAGUS!

August 3, 2015 by abahzaky2014

Islam Global, Islam Nusantara, dan Islam Saya.
Menyikapi Keberagaman Islam dengan Semangat Santri Sejati

 

Wardah Alkatiri

 

Pemberian embel-embel baru di belakang Islam, dari radikal, garis keras, fundamentalis, militan, kiri, kanan, damai, cinta, hingga global, transnasional dan nusantara, akan terus berlangsung. Bukan saja nama baru itu mencerminkan konteks sejarah, sosial dan budaya di mana Islam sedang berada, berhadapan atau berjuang mempertahankan eksistensinya, pelabelan juga mempunyai dimensi politik yang mencerminkan adanya konflik. Penamaan Islam Global dan Islam Nusantara pun boleh jadi menceritakan adanya konflik dan hegemonisasi. Yang satu antara Islam dengan ‘penguasa dunia’, yang lain dengan negara. Dalam perdebatan the politics of naming yang dikenal dalam ilmu sosial, definisi ditentukan oleh si pembuat definisi, bukan apa yang didefinisikan. Ketika kita memberi label pada seseorang, saat itu pula kita menghakiminya tanpa proses pengadilan: “to give someone or something a name is to exercise power” tulis Jonathan Herring dalam The Power of Naming. Nietzsche pun mengetahui itu di dalam On the Genealogy of Morality. Menurut Herring, political control seringkali dijalankan melalui kuasa pemberian label pada seseorang, apakah itu label terrorist, disabled (cacat), ignorant (bodoh, kurang berilmu) atau criminal. 
Meskipun sepanjang sejarah Islam selalu bersifat global dan lintas-bangsa, tetapi penamaan Islam Global dan Islam Transnasional menjadi ‘perlu ada’ di era globalisasi ketika kemajuan teknologi informasi dan transportasi telah mereduksi jarak dan membuat umat Islam makin terhubung satu dengan yang lain, dan dimana Islam juga tampil makin asertif menghadapi hegemoni ‘peguasa dunia’.  
Demikian jugalah dengan Islam Nusantara. Seiring dengan adat revival (kebangkitan adat kembali) dalam penelitian Davidson, Henley dan Takano, Islam Nusantara dapat dijelaskan sebagai bagian dari fenomena pelokalan dan penguatan kembali nasionalisme melawan derasnya arus globalisasi. Tentu bukan kebetulan jika fenomena kontradiktif tersebut terjadi justru di negara2 bekas jajahan -terutama multi-etnik. Di India, misalnya, penamaan kembali beberapa tempat dilakukan untuk menyenangkan masyarakat lokal dan membangkitkan kebanggaan pada budaya India: Bombay telah diubah menjadi Mumbai; Bangalore menjadi Bengaluru. West Bengal yang merupakan kampung halaman berbagai etnik yang tidak semuanya berbahasa-ibu Bengali telah diubah menjadi Paschim Banga sebagai terjemahan kata West Bengal dalam Bahasa Bengali.
S.R. Chowdhury berkomentar pada The Financial Times, 2011, penamaan Paschim Banga adalah pertanda berkuasanya etnik Bengali yang memarjinalisasi etnik lain. Dengan alasan yang kurang-lebih sama, perdebatan di media sosial baru-baru ini cukup seru terhadap pembacaan Quran dengan langgam Jawa. Yang berkeberatan tentu saja mereka-mereka yang bukan orang Jawa.
Mengingat hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan yang paling pribadi di antara hubungan apapun juga, dalam tulisan ini penulis mengajak umat Islam untuk memerdekakan diri dari berbagai kepentingan politik dibalik pelabelan Islam dengan berbagai nama, lalu, menciptakan sendiri definsi Islam yang paling sesuai dengan diri kita masing-masing. Kemudian, sebutlah itu dengan ‘Islam Saya’. 
‘Islam Saya’ adalah Islam yang saya pahami dan yang saya jalankan tradisinya. ‘Islam Saya’ adalah Islam yang saya nikmati semua pengalaman spiritualnya. ‘Islam Saya’ adalah jalan yang saya cari kembali ketika saya tersesat dan resah. ‘Islam Saya’ adalah Islam yang memberikan saya identitas; yang menjadikan saya disiplin menjalankan sholat di tengah kesibukan apapun; yang membuat saya kuat menahan lapar dan dahaga berpuasa; yang membangunkan saya di tengah malam untuk tahajud dan bermunajat; yang membuat saya rela berbagi harta untuk membayar zakat setelah saya mencarinya dengan susah payah; yang membuat saya menabung sedikit demi sedikit agar bisa pergi berhaji ke tanah suci – dan yang memberikan makna atas semua pengorbanan itu.
‘Islam Saya’ adalah lentera yang saya bawa ke mana-mana – yang menjadi penghias ketika terang dan penerang ketika gelap. ‘Islam Saya’ adalah ‘bahasa’ yang bisa membuka kesadaran saya akan keberadaan Nya, dan ‘jalan mendaki’ yang sedang saya tapaki untuk menuju kepadaNya, ‘Islam Saya’adalah sebuah ruang kosmis dimana terdapat kait-mengkait antara saya dengan orang-tua; para guru; ulama; dan anak-cucu saya kelak, dalam sebuah kesatuan yang bermakna dan terhubung kepadaNya. 
Kalau sekiranya ‘Islam Saya’ berbeda dengan Islam tetangga saya, saya tidak akan ambil pusing karena saya sudah punya yang saya perlukan. Kalau ‘Islam Saya’ sama dengan Islam teman saya, saya akan senang berbagi pengalaman dan pengetahuan ke-Islaman dengannya. Kalau di tengah jalan ‘Islam Saya’ tidak bisa menjawab banyak pertanyaan dan tantangan hidup yang tiba2 menghadang, saya akan mencari Islam lain yang bisa menjawab kebutuhan itu. 
Sambil mensyukuri kekayaan khasanah Islam, saya akan belajar dari beragam aliran yang dibawa oleh berbagai kelompok, apakah itu Nadlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, Ikhwan al-Muslimin, Hidayatullah, para ahlulbayt, tarekat para Sufi, dan lain sebagainya – dengan semangat seorang santri yang sejati. Yaitu, semangat mencari ilmu dan kebenaran dengan terlebih dulu membersihan hati dari niat sekedar mencari kemasyhuran dan menginginkan kedudukan, sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali di mukadimah buku Bidayatul Hidayah: “Ketahuilah wahai manusia yang ingin mendapat curahan ilmu,,,, jika engkau menuntut ilmu guna bersaing, berbangga, mengalahkan teman sejawat, meraih simpati orang, dan mengharap dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia. Dengan demikian, engkau mengalami kegagalan, perdaganganmu merugi,… Tapi jka niat dan maksudmu dalam menuntut ilmu untuk mendapat hidayah, bukan sekadar mengetahui riwayat, maka bergembiralah. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untukmu saat engkau berjalan dan ikan-ikan di laut memintakan ampunan bagimu ketika engkau berusaha” (Al-Ghazali). Dan selanjutnya, saya akan membiarkan Allah sendiri-lah yang akan menunjukkan pada saya apa-apa yang saya cari itu.

Penulis adalah PhD candidate in Sociology, University of Canterbury, New Zealand, dengan research topic mengenai pemberdayaan Umat Islam melalui institusi pendidikan Islam, perekonomian mandiri, dan kekuatan komunitas Islam, menghadapi kemiskinan dan krisis sosio-ekologis.