Fadhilah membaca kitab sohih Bukhari

February 26, 2020 by abahzaky2014

Tulisan bagus.

Penyusun Habib Ahmad bin Ali bin Ahmad Alatas, Pekalongan.

FADHILAH2 DAN ANJURAN PEMBACAAN KITAB BUKHORI

صلاة للحبيب علي بن حسن العطاس
صاحب المشهد

اللَّهُمَّ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ الَّذِي هَدَيْتَ بِهِ النَّاسُ وَجَلَوْتَ بِهِ الأَغْلَاسُ وَبِحَقِّ عُمَرُ العَطَّاسِ وَمَا حَوَاهُ كِتَابُ القِرْطَاسِ أَنْ تُصَلِّيَ وَتُسَلِّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ القَائِمِ بِالحَقِّ بَيْنَ النَّاسِ وَأَنْ تُنَزِّلَ بِأَعْدَائِنَا كُلَّ بَاسٍ وَتَقْطَعَ مِنْهُمْ كُلَّ رَاسٍ وَتُنْزِلَهُمْ مَنْزِلَةَ القَائِلِ لَامِسَاس وَلَاتُخْلِفُهُمْ وَعْدَ الهَلَاكِ وَالإِفْلَاسِ وَالبُعْدِ وَالطَّرْدِ وَالإِبْلَاسِ.

Pengantar
Membaca risalah ini sangat perlu untuk mengetahui kedudukan hadits-hadits yang terkandung di dalam Kitab Sahih Al-Bukhari, mengetahui kedudukan hadits sebagai tafsir dan penjelas Alqur’an yang suci yang merupakan sumber kedua ajaran Islam. Ini Ppertama
Kedua : mengetahui kedudukan Imam Bukhari sebagai ulama besar yang hafal ratusan ribu hadits, bahkan dapat dibilang beliau adalah ensiklopedia hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Sehingga ada yang mengatakan “hadits yang tidak diketahui oleh Imam Bukhari, bukanlah hadits”
Ketiga : para salaf, ulama dan aulia pendahulu-pendahulu kita menjadikan pembacaan kitab ini sebagai wasilah untuk bertaqarrub kepada Allah untuk mencapai segala hajat dan harapan yang terkandung di dalam hati kita masing-masing, baik hajat-hajat yangyyý bersifat duniawi maupun ukhrawi, dan salaf telah membuktikan hal ini telah tercapai dan terkabul.
Kendati demikian, namun tujuan utama kita adalah memahami dan mendalami serta mendorong minat oran untuk memahami dan mendalami ajaran yang terkandung di dalamnya untuk diamalkan, baik yang berupa ajaran yang berhubungan dengan hukum-hukum syari’ah, yang berhubungan dengan aqidah, berhubungan dengan akhlak, baik yang berhubungan dengan soal-soal duniawi maupun ukhrawi.
Semua itu diuraikan secara singkat padat oleh penyusunan risalah ini ( yaitu Habib Achmad b.Ali b.Achmad Alatas ) dalam risalah ini guna memberi semangat dan dorongan serta motifasi yang kuat bagi kita semua untuk menekuni Sahih Bukhari ini sebagaimana dilakukan oleh salaf pendahulu-pendahulu kita.
Semoga maksud dan tujuan sebagaimana yang diharapkan penyusunannya itu tercapai adanya. Wallahu waliyyuttaufiq wal hadi ila sawa’ Aththoriq.
Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Habib Ali b. Muhammad Al-Habsyi menyatakan sebagai berikut: “tidak ada jalan untuk menghilangkan segala kesulitan dan mengurai segera keruwetan kecuali melalui junjungan segala makhluk yaitu Nabi Muhammad saw. Syeikh Abdul Wahab Assya’rani menyatakan: “Saya melihat sebuah papan tulis (lauh) yang terletak di antara langit dan bumi, maka saya baca tulisannya baris demi baris, pada akhirnya ada tertulis. “semua pintu telah bergeser untuk ditutup, tidak ada satu pun yang terbuka kecuali pintu Nabi Muhammad saw. Maka barangsiapa yang mempunyai hajat hendaklah mengajukannya kepada beliau saw.”
Kini kita akan mengajukan segala urusan kita kepada beliau saw. Dan beliaulah yang akan membawanya masuk ke hadirat Allah swt. Sedangkan beliau adalah pemberi syafaat yang agung Saw.
Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah yang maha pemurah, segala ni’matnya tidak dapat dihitung atau dijumlah, yang mencipta hikmat yang harus (luthf) dan petunjuk, memberi hidayah kepada jalan yang benar, maka pemberi anugerah demi memperhatikan dan mengurusi sunnah hadits-hadits kekasihNya (Nabi Muhammad saw ) dengan Ilmu Isnad.
Kemudian dari pada itu, sesungguhnya ilmu sunnah (hadits Nabi Muhammad), sesudah Alqur’an yang suci adalah ilmu yang paling agung nilainya, paling tinggi kemuliaan dan keagungannya, sebab atas dasar ilmu inilah terdiri ka’idah-ka’idah hukum islam dan dengan ilmu ini menjadi jelas uraian ayat-ayat Alqur’an yang singkat. Betapa tidak, padahal sumbernya datang dari manusia yang tidak mengucapkan sesuatu pun berdasarkan hawa nafsu melainkan berdasarkan wahyu yang di wahyukan. “Hadits-hadits ini adalah penafsir Al-Kitab (Alqur’an), karena Nabi mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan Alqur’an itu sesuai dengan apa yang diwahyukan oleh Tuhannya”.
Maka sesungguhnya kitabSahih Bukhari Al-Jami’ telah menampilkan kekayaan ilmu yang terpendam, dalam gaya bahasa yang mengesankan serta mencapai keunggulan danmenjuarai (dibanding yang lain dalam bidang ini). Betapa tidak,sedangkan penyusunannya adalah Imam Al-Hafidz penutup dan pungkasan tokoh-tokoh ulama Hadits yang termasyhur,sesepuh ilmu ini yang sangat ahli dalam meneliti penyakit-penyakitnya(kelemahannya), baik di masa dahulu maupun di masa-masa akhir, Imam semua imam baik di kalangan bangsa Arab maupun non Arab, terkenal keutamaannya di barat maupun di timur, Al-Hafidz yang hafal dan tidak luput dari ingatannya itu yang jauh maupun yang dekat, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.
Imam Bukhori ini lahir pada saat setelah shalat di hari Jum’at tanggal 13 Syawal tahun 194 H. ayah beliau Isma’il wafat pada masa beliau masih kanak, sehingga beliau anak yatim, sedangkan beliau wafat pada malam Sabtu, malam I’edul Fitri tahun 256 H. dalam usia 62 tahun kurang tigabelas hari. Setelah di shalatkan dan diletakkan di liang lahad tersebarlah dari tanah kuburnya bau harum yang semerbak, berlangsung beberapa hari lamanya, sehingga banyak orang yang datang berziarah mengambil barakah dari tanah itu.
Abdul Wahid bin Adam Atthawawisi berkata : “Saya mimpi (pada suatu malam) melihat Nabi Muhammad dan bersama beliau serombongan sahabat berdiri di suatu tempat, lalu saya memberi salam dan beliau menjawab salam itu. Saya bertanya : “Mengapa Anda berdiri di tempat ini ya Rasul Allah ?”. Beliau menjawab : “Saya sedang menunggu Muhammad bin Isma’il Al- Bukhari” jawab Beliau. Selanjutnya Atthawawisi mengatakan : “Beberapa hari kemudian saya mendengar berita wafatnya (Imam Bukhari). Saya ingat kemudian bahwa saat (mimpi) itu adalah saat wafatnya Imam Bukhari.
Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qasthollani telah menulis panjang lebar tentang biografi (riwayat hidup) Imam Bukhari dalam kitabnya “Irsyad Assari FI Syarh Al- Bukhari” semoga Allah melimpahkan ridhoNya atas mereka serta memberi manfaat kepada kita semua.
Oleh karena kitab Sahih Bukhari ini merupakan kitab yang agung di semua zaman, terutama di kalangan mereka yang mendapat cahaya ilmu, maka amat banyaklah orang yang membaca dan mempelajari kitab ini. Syekh Muhammad bin Abu Jamrah menyatakan : “Telah berkata kepadaku para ulama yang Arif dari para sayyid yang mengakui keutamaannya (seraya menyatakan) : “Tiadalah kitab ini dibaca dalam kesulitan, melainkan dihindarkan Allah kesulitan itu dan tidak akan tenggelam sebuah kapal yang memuat kitab ini di dalamnya”.
Imam Bukhari adalah seorang yang mustajab do’anya. Al Hafidh Imanuddin Ibnu Katsir menyatakan : “Kitab Sahih Bukhari ini dapat dibaca untuk memohon turunnya hujan di masa paceklik dan telah bersepakat seluruh umat Islam atas kebenaran (sahihnya) Hadits yang terkandung di dalamnya”. Iamam Adzdzzhabi menyatakan : “Jika seseorang melakukan perjalanan sejauh seribu farsakh (satu farsakh = delapan Km) untuk mendengarkan pembacaan Sahih Bukhari maka tidak akan sia-sia perjalanannya itu.
Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi menyatakan : “Pembacaan kita dalam kitab Sahih Bukhari ini menggerakkan rantai-rantai (langit) yang akan menurunkan rahmat (Allah atas kita semua). Dinyatakan di dalam kitab Almasyra’ Arrawiy : “Dalam kitab Tarikh Ibnu Al- Khathib, bahwasanya Isma’il bin Muhammad Annaisaburi telah membaca kitab Sahih Bukhari ini dan mengkhatamkannya dalam tiga majlis : Pertama membaca dari waktu Maghrib dan berhenti di waktu Fajar, Kedua : membaca dari waktu Dhuha (setelah matahari terbit) sampai waktu Maghrib, dan Ketiga : membaca dari waktu Maghrib sampai waktu Fajar. Diriwayatkan pula, bahwa Al-Hafidh Al-Abdusi dari Maghrib (Maroko) membaca Sahih Bukhari dan menghatamkannya dalam waktu satu hari, dengan harapan diturunkannya hujan.”
Habib Achmad bin Hasan Alatas menyatakan : “Adalah merupakan adat kebiasaan Habib Ubaidillah bin Muhsin Assagaf untuk membaca kitab Sahih Bukhari pada bulan Rajab selama sebulan : dua jam pada pagi hari dan satu setengah jam pada sore hari dan menghatamkannya pada (akhir) bulan Rajab ini”. Demikian pula para Sayyid di negeri Sewun (Yaman/Hadramaut) dan beberapa tempat yang lain membaca kitab ini, membaginya menjadi beberapa bagian, sesuai semangat mereka dan yang demikian itu merupakan tradisi yang baik, demikian pula tradisi semacam ini dilakukan orang di negeri Zabid (Yaman Utama) dan sebagian nesar negeri Yaman. Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi meriwayatkan bahwa di negeri Yama nada orang-orang yang mempunyai silsilah riwayat secara lisan dengan sanad yang bersambung sampai kepada Imam Bukhari hingga masa akhir-akhir ini”.
Sebab mengapa terjadi yang demikian itu? Sebab ada sementara raja (penguasa) yang mewakafkan sebagian harta untuk pembacaan kitab Bukhari ini setiap tahun di Bulan Rajab, dimulai pada awal bulan dan menghatamkannya di akhir bulan. Pembacaan ini biasanya dihadiri (diikuti) oleh ulama ulama besar, sedangkan pembacaannya hanya seorang saja (dan yang lain menyimak). Pembacanya di zaman Syekh Abdurrahman bin Ali Addaiba’I (penyusun kitab Maulid Daiba’) pembacanya adalah beliau sendiri. Syekh ini sangat bagus dan indah bacaannya, sehingga pernah seorang wali majdzub minta izin untuk mengisap lidahnya karena selalu menyampaikan hadits-hadits Rasulullah SAW.
Syekh Yusuf Annabha meriwayatkan dalam kitabnya “Jami’Karamat Al-Aulia” J.I P.136 : sebagai berikut : “Diantara karamat yang ditampilkan oleh Syekh Muhammad bin Ali bin Wahb Abu Al Fath Tqiyyudin ibnu Daqiq Al-Ied menyatakan : “Ketika kaum Tatar datang menyerang diterimalah surat resmi dari Sultan ke negeri Mesir, (memerintahkan) untuk mengumpulkan para ulama dan membaca Bukhari bersama, maka dibacalah Sahih Bukhari itu, sehingga tinggal satu majlis lagi, pada hari Jum’at keesokan hari itu Ibnu Daqiq Al-‘Ied bertanya : “Bagaimana kalian dengan pembacaan Bukhari itu?” Seorang menjawab : “hari ini kami akan mengkhatamkannya” “perkara yang kami harapkan” kata Ibnu Daqiq Al-‘Ied (yaitu kekalahan kaum Tatar) telah terjadi kemarin di waktu Ashar” dan benarlah apa yang dikatakannya.
Habib Edrus bin Umar Al-Habsyi menyatakan : “Ketahuilah hadirin sekalian ! Wajiblah bagi orang yang mendengar hadits Nabi SAW untuk bersikap sopan, meninggalkan hal-hal yang tidak patut, menggunakan akal fikirannya untuk menerima apa yang diterangkan oleh Rasulullah SAW berupa hukum-hukum yang datang dari Rasul Allah, dan hendaklah dia memaksan diri untuk mengikuti apa yang diriwayatkan oleh ulama ‘Arifin, yaitu menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh Nabi SAW sebagai yang diriwayatkan oleh Qadhi ‘Iyadh dalam kitabnya “Assyifa”.
Diriwayatkan dalam kitab tersebut, bahwa Ibrahim Attujibi berkata : Adalah wajib bagi setiap orang yang beriman, apabila disebutkan nama Beliau SAW hendaklah orang itu bersifat rendah hati, khuyu’, bersikap anggun, tidak banyak gerak, menghormati dan mengagungkan beliau, sama seperti seandainya beliau benar-benar ada di hadapannya, sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an”.
Diriwayatkan pula bahwa Imam Muhammad bin Sirin (seorang tokoh ulama Tabi’in) kadang-kadang bergurau (tertawa), namum apabila hadits Nabi disebutkan di hadapannya beliau langsung tertunduk dan menjadi khusyu’. Demikian pula Abdurrahman bin Mahdi, apabila membaca hadits Nabi SAW beliau mengingatkan orang di sekitarnya supaya diam, seraya membaca ayat Al-Qur’an yang artinya : “Janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih dari suara Nabi”. Serta mena’wilkannya orang wajib berdiam diri ketika mendengar hadits Beliau dibacakan sama seperti mendengar ucapan beliau (tatkala hidup).
Habib Muhammad bin Hadi Assagaf menyatakan : “Diantara (cara) mengagungkan Syi’ar Allah adalah membaca Sahih Bukhari di Bulan Rajab, karena sesungguhnya barang siapa melaksanakan hak Allah (berupa ibadah) di Bulan Rajab, Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan kewajibannya di Bulan Sya’ban dan barang siapa melaksanakan hakNya di Bulan Sya’ban Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan kewajibannya di Bulan Ramadhan.
Para hadirin ! : Pembacaan Bukhari hampir tiba waktunya dan kita mempunyai tujuan yang sungguh-sungguh dan minat yang kuat. Kita tidak akan memikirkan urusan-urusan lain yang bersifat duniawi, melainkan berniat akan memusatkan seluruh minat kita pada pembacaan itu. Oleh karena itu Anda melihat apabila majlis Bukhari ini telah usai, seseorang diantarakita kembali ke rumah untuk makan seadanya serta berniat untuk mengikuti majlis berikutnya. Dengan niat yang tulus ini, maka kepergian dari rumah untuk mengikuti pembacaan Bukhari ini, duduknya di rumah sesudah pulang, semua itu menjadi ibadah. Adapun Anda sekalian – para hadirin – (perlu mengingat) barang siapa yang berniat untuk membaca Bukhari hendaklah dia datang dengan adab (sopan santun), maka yang datang dengan cara demikian, “Ahlan wa sahlan”, dan selamat datang atas kehadirannya. Adapun yang hadir tanpa adab dan sopan santun, maka lebih baik bagi dia untuk tinggal di rumahnya dan pahalan (niatnya untuk membaca Bukhari) akan sampai kepadanya. Kita berniat mambaca Bukhari ini untuk memberi manfaat kepada orang lain dan memperoleh manfaat bagi diri dan kita mempunyai niat-niat yang berupa materiil.
Maupun sprituil bagi kita sendiri khususnya dan bagi seluruh penduduk negeri ini umumnya, maupun bagi seluruh kaum muslimin (di manapun mereka berada). Sedangkan saya (kata Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi) hanyalah salah satu di antara kalian semua.
Bacaan Sahih Bukhari ini merupakan amalan yang termasyhur (terkenal di mana-mana), dihadhiri oleh para Waliy yang tidak tampak dan juga arwah para Shalihin dari tempat-tempat yang jauh, sesungguhnya seorang waliy itu memenuhi alam semesta dan InsyaAllah pahala yang diperolehnya akan dibagikan kepada yang dekat maupun yang jauh, yang hidup maupun yang telah wafat, masing-masing akan mendapatkan barakahnya, karena dalam membaca Bukhari ini kami mengemukakan urusan-urusan ukhrawi maupun urursan-urusan duniawi, baik materiil maupun spirituil. Pembacaan Bukhari ini adalah hidangan yang digelar oleh Nabi saw dan tidak sia-sialah orang yang bertawassul dengan Rasul dan tokoh-tokoh salaf untuk memeperoleh apa yang ia harapkan dan dicita-citakan, kalian semua akan mendapat sirr dari Nabi saw dari para Sahabat dan para Tabi’in serta para Rawi(pembawa riwayat hadits-hadits ini) radhiaAllahua’nhum. Jika di dalam membaca hadits-hadits ini tidak ada keuntungan selain membaca shalawat atas Nabi saw cukuplah hal itu untuk menjadi pahala yang besar, sebab nama Nabi Muhammad ini tidak di sebutkan di suatu tempat, melainkan tempat itu menjadi harum semerbak, penuh wewangian.
Ada seorang Arifin menyatakan: “tidak ada suatu majlis di mana diucapkan padanya shalawat atas Nabi saw melainkan akan menyebarlah bau harum sehingga mencapai atap langit lalu para Malaikat akan mengatakan: “di majlis ini telah dibacakan shalawat atas Nabi saw”. Di dalam sebuah hadits yang lain Nabi saw bersabda: “Tidak adalah suatu majlis dimana diucapkan padanya shalawat atas Nabi saw melainkan semerbaklah harum sehingga mencapai atap langit, maka para Malaikat akan berkata: “Ini adalah semerbak keharuman bau majlis di mana diucapkan padanya shalawat atas Nabi saw (Dari kitab Sa’adatu Addarain P.515)
Betapa tidak, sedangkan di dalam kitab ini terkandung sabda-sabda Nabi, berita-berita tentang hal ihwal beliau, dialog beliau dengan para istri dan keluarga, disebutkannya hal-hal tentang halal dan haram, shalat dan puasa, zakat dan haji, sedekah dan usaha bagi hasil (musaqah) serta hal-hal yang berupa hukum Syari’at yang suci. Di samping itu penyusunnya adalah seorang wali besar, sehingga diriwayatkan bahwa beliau tidak mencantumkan sebuah hadits di dalam kitab itu melainkan sesudah shalat sunnah Istikharah di masjid Haram Makkah, beliau menyusun kitab itu dalam jangka waktu enabelas tahun.
Diriwayatkan bahwa beliau di masa kanak-kanak Bukhari melewati sekelompok orang di tepi jalan, mereka berkata: “Anak ini hafal seribu hadits dari Rasul Allah saw di luar kepala”. Beliau menjawab: “Bukan seribu melainkan seratus ribu hadits Nabi yang saya hafal”. Mereka berkata: “Bersediakah Anda mengimlakkannya (mendektenya) kepada kami?”. “Ya aku bersedia” jawab Bukhari dan langsung mengimlakkannya kepada mereka”.
Pada masa kanak-kanak beliau menderita sakit hingga kehilangan penglihatannya (menjadi buta), namun beliau mempunyai seorang ibu yang sungguh-sungguh berdo’a demi kesembuhan putranya. Ibu ini mimpi bertemu Nabi Ibrahim a.s. dan melihat beliau mengusap kedua mata putranya, maka sembuhlah dan dapat melihat kembali. Kemudian beliu berkembang menjadi seorang ulama besar.
Orang-orang yang datang menghadiri majlis Bukhari ini hendaklah bersikap sopan santun (tidak saling bicara sendiri, atau melakukan hal-hal yang mengganggu), barangsiapa bersikap demikian ahlan wasahlan kita ucapkan kepada orang itu dan kami menyambutnya dengan gembira dan betapa beruntung dia dengan pahala besar yang akan di perolehnya, tapi bagi yang sebaliknya, maka sebaiknya tinggal di rumah saja sedangkan pahala niatnya untuk mengikuti membaca Bukhari akan diperolehnya walaupun dia di rumah, sebab kita berniat membaca Bukhari ini untuk menjadikan manfaat dan pahalanyabagi seluruh penduduk negeri ini khususnya dan seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya dan semoga Allah menyertakan perolehan pahala bacaan ini baik mereka yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Habib Ali Al-Habsyi menyatakan dalam salah satu ceramahnya pada malam rabu satu Rajab tahun 1342 H, sebagai berikut: “Waktu Subuh adalah saat masing-masing bersiap-siap untuk hadhir dengan membawa kitabnya. Hendaklah kalian saling ingat mengingatkan tentang sopan santun tadi, baik yang kecil maupun yang besar. Kita akan menyelesaikan pembacaan Bukhari ini dalam tempo tujuh hari. Bukan dengan maksud supaya cepat-cepat selesai dan sesudah itu merasa lega, bukan. Melainkan kita akan merebut kesempatan ini dan memanfaatkan waktu ini dari gangguan dan godaan setan. Mungkin ada satu dua orang yang bermalas-malas dan merasa jenuh, namun ia akan memaksa diri dan bersabar karena pembacaan Bukhari ini singkat seklai – hanya tujuh hari – setiap berlalu sehari kita akan bergembira karena hanya tinggal beberapa hari lagi akan selesai. Malam tadi kami telah memberi peringatan dan semangat kepada para hadhirin untuk mendengar bacaan Bukhari dan sabda-sabda Nabi SAW, kami anjurkan supaya mereka diam dan tidak saling berbicara sendiri ketika hadist dibaca, mendengarkan dan bersikap sopan, baik lahir maupun batin Kami
ketiga tokoh salaf, yaitu Syekh Alwi bin Al-faqih Al-Muqaddam, putranya Syekh Ali bin Alwi dan Syekh Umar Al Muhdhar Radia Allahu Anhum. Kuda-kuda mereka telah siap dengan kendali dan pelana (untuk menolong siapapun yang memohon pertolongan dengan segera), mereka adalah tokoh-tokoh yang cepat memberi pertolongan. Salaf telah menganjurkan kepada kita untuk bertawassul kepada ketiga tokoh ini, kini kami bertawassul dengan mereka dan juga dengan para Nabi dan Rasul, nenek moyang dan datu’-datu’, para pendahulu kita, para wali yang ada di negeri Yaman, di negeri Irak, Penghuni kuburan Baqi’, kubuarn Ma’la dan semua Ahlud darak (yang segera memberi pertolongan bila diminta), juga kami baca Fatihah untuk arwah Nabi Muhammad yang bersabda (artinya): “Pembacaan Fatihah itu untuk niat apa saja ia dibaca (pasti berhasil)”. Kami bertawassul dengan mereka semua, dengan Jah dan Pangkat mereka di sisi Allah karena mereka adalah orang-orang yang dicintai dan dikasihi oleh-Nya. Adapun kita meskipun tidak sama dengan mereka, maka perumpamaan kita sama dengan seorang hamba sahaya yang dimurkai oleh tuannya, maka kepada siapa gerangan dia akan mengambil hati tuannya itu, selain dengan perantara orang yang dicintai oleh tuannya itu, agar dimaafkan dan dikabulkan permohonannya. Untuk itu kita bertawassul kepada Allah dengan perantara orang-orang yang di kasihi-Nya. Mereka adalah para Nabi dan para Rasul, serta para waliy yang dicintai oleh-Nya dan sama sekali tidak mungkin Allah akan menolak dan mengembalikan mereka dengan tangan kosong (tanpa memperkenankan permohonan mereka), sedangkan mereka adalah pemikul-pemikul beban bera.
Kita berniat untuk menjadikan manfaat bacaan ini untuk dunia seluruhnya, dan masing-masing kita hendaknya membesarkan minatnya dalam berdoa, sedangkan yang akan menerima doa kita ini adalah Allah SWT. Doa ini kami peruntukkan buat semua, untuk kami dan unutk Anda semua, untuk anak-anak kita. Yang sudah ada dan yang akan ada, yang dekat dan yang jauh, yang telah hadhir danyang tidak hadhir, yang masih hidup dan yang telah wafat.kita bertawassul kepada Allah dengan Nabi Muhammad saw beserta keluarganya, bertawassul kepada Imam Bukhari dan tokoh-tokoh perawi haditsnya, demi pangkat dan kedudukan mereka di sisi Allah semoga menganugrahi kita dengan mengabulkan segala permohonan, tercapainya segala cita-cita, sedangkan Allah tidak mungkin mengembalikan kita dengan tangan kosong, melainkan Dia akan menganugrahi kita segala yang kita cita-cita kan dan apa yang kita maksud dan yang demikian itu bukanlh sesuatu yang mustahil bagi Allah. Kendali kita tidak sama dengan orang-orang tersebut di atas, namun, dengan merendah dan menundukkan kepala serta bertawassul dengan mereka, semoga Allah akan menggolongkan kita bersama mereka dan menghimpun kita di hari kiamat menjadi satu golongan dan bersama mereka, memberi kita apa yang diberikan kepada mereka. Ya Allah kita mohon syafaat dan bertawassul dengan kekasihMu Muhammad saw, memohon barakah dan membaca hadits-hadits beliau semoga Allah menyingkap dan menghilangkan segala bencana dan penyakit, baik yang lahir maupun yang batin, wahai kekasih kita ya Muhammad kita menjadikan Anda sebagai perantara kepada Allah Tuhan kita supaya menghindarkan kami dan seluruh kaum muslimin dari segala bencana dan malapetaka yang akan menimpa, memenuhi segala hajat yang kami harapkan, Ya Allah perkenankanlah syafaat beliau untuk kami, ya Allah yang maha pengasihdi antara semua pengasih ( Ya Arhamarrahimin)

Tanggalan

February 2020
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
242526272829  

Blog Stats

  • 142,487 hits
web
statistics