Fiqh Tahawwulat.

February 18, 2017 by abahzaky2014

Copas dari MJT Group

Rujukan:
https://www.slideshare.net/mobile/yogisworo7/materi-dauroh-fiqh-tahawwulat

 

 FIQH TAHAWWULAT : Keselamatan Anda dan Masa Depan Umat

PENDAHULUAN

Ketika Allah memerintahkan iblis bersujud kepada Nabi Adam a.s sebagaimana tertera dalam ayat Al-Qur’an, dari sejak itulah dua tabiat dan seteru sejati dalam makhluk mulai muncul. Dan merupakan hal yang fitrah,setiap pihak pasti akan mencari dan memunculkan generasi-generasi baru untuk melanjutkan ajarannya tersebut baik ajaran kebaikan maupun jalan keburukan.

Hari ini dapat kita lihat jelas dari generasi kedua dari bangsa manusia, yaitu Habil dan Qabil dimana iblis menggoda Qabil untuk meneruskan keburukan yang ia bawa sehingga terjadilah pembunuhan antara saudara, Habil dengan motif rasa iri hati sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an. Dua seteru tersebut (kebaikan dan keburukan) akan terus berlanjut dan terus mencari generasi hingga akhir zaman nanti.

Allah SWT pun mengutus para utusan untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan kepada manusia, termasuk kekasih kita, Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus kepada kita sebagai kaum akhir zaman, dengan memiliki misi yang sama dengan para utusan sebelumnya, yaitu menunjukkan jalanyang benar dan kebaikan, serta memperingatkan manusia dari jalan yang tidak benar dan keburukan.

Sebagai Nabi terakhir, tentunya tak akan ada lagi Nabi setelah beliau sebagaimana yang telah di tegaskan oleh beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Hal ini menuntut bahwa Junjungan kita, Nabi Muhammad SAW pasti menjelaskan hal-hal kebaikan dan hal-hal keburukan yang akan terjadi sampai hari akhir baik secara global maupun terperinci.

Dari sinilah ilmu Fiqh Tahawwulat disusun, pada dasarnya ilmu ini merupakan kumpulan dari berbagai teks Al-Qur’an dan hadits yang berhubungan dengan perubahan dan fasa-fasa yang akan terjadi dalam sejarah kehidupan manusia secara umum, dan umat Nabi Muhammad secara khusus sehingga apa yang akan berlaku hingga hari Qiamat (eskatologi).

Pengertian Ilmu FiqhTahawwulat
Habib Abu Bakar Al-Adni dalam kitabnya,An-Nubdzah Ash-Shughro menjelaskan bahwa definisi fiqh tahawwulat adalahsebagai berikut:
Pemahaman syari’at terhadap hal-hal yang telah,sedang atau akan terjadi dari perubahan dalam kehidupan manusia dan alamsemesta, dan hal-hal baru dalam ilmu teoritis ataupun aplikatif, kebudayaan,kejadian dan fitnah di tahap-tahap kehidupan manusia secara umum dan kehidupanumat nabi Muhammad secara khusus hingga hari kiamat, baik melalui teks-teksqur’an dan hadits yang meneropong masa depan, maupun teks-teks qur’an danhadits yang menunjukkan kejadian di masa lalu[1].
Dari pengertian di atas dapat kita petikkesimpulan bahwa semua hal yang ada dalam ilmu fiqh tahawwulat ini sebenarnyaada dan tercantum dalam Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad SAW, namun ilmu inimerupakan wadah yang mengumpulkan pecahan-pecahan teks-teks mengenai hal-halyang berkaitan dengan ilmu ini. 

Layaknya ilmu balaghoh yang pada dasarnyamerupakan kumpulan dari teks-teks Al-Qur’an dan hadits beserta syair-syair danprosa-prosa Arab yang pada akhirnya diberikan istilah secara khusus sepertiilmu-ilmu yang lainnya.

Selain itu kita juga dapat memahami bahwa dalamilmu fiqh tahawwulat ada dua macam teks dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjadipembahasan. Pertama, teks-teks yang menembus dan membaca masa depan, danyang kedua adalah teks-teks yang menjelaskan kejadian-kejadian di masalampau yang berhubungan dengan ilmu tanda-tanda hari kiamat.
Yang perlu digarisbawahi dari ilmu ini adalah,bahwa pembelajaran tanda-tanda hari kiamat dalam fiqh tahawwulat lebihmenekankan kepada perumusan tanda-tanda tersebut menjadi sebuah kaedah dan padaakhirnya terbentuklah ilmu fiqh tahawwulat itu sendiri, tidak hanya mempelajaritanda-tanda hari kiamat dengan cara mengumpulkannya dari berbagai teks dankemudian menjelaskannya.
Empat Rukun Agama 
Islam adalah agama terakhir dan Nabi Muhammadadalah nabi terakhir dan Al-Qur’an adalah kitab suci samawi terakhir. Haltersebut menunjukkan bahwa agama Islam, nabi Muhammad dan Al-Qur’an pastimemiliki jawaban terhadap semua hal yang ada dan akan ada atau terjadi dalamkehidupan makhluk hidup karena Allah telah berfirman:
)الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا( [المائدة: 3]
Ulama-ulama salaf dan para pendahulu banyak yangmemiliki pendapat dan beranggapan bahwa rukun agama ada tiga, yaitu iman, Islamdan ihsan. Iman dalam bidang keyakinan, Islam di bidang pekerjaan dzohir danihsan dalam bidang suluk dan akhlaq. Namun perlu disadari bahwa tak semua ulamamengatakan demikian. Buktinya, di dalam Shohih Bukhori dapat kita baca bahwaImam Bukhori – dalam memberikan judul terhadap hadits Jibril yang dijadikansalah satu landasan dari ilmu ini – mengatakan “Bab pertanyaan Jibril as.Kepada Nabi Muhammad SAW tentang iman, Islam, ihsan dan ilmu hari kiamat, danpenjelasan Nabi mengenai hal itu, kemudian perkataan Nabi Muhammad SAW: Jibrilas datang mengajarkan kalian tentang agama kalian, maka nabi Muhammadmenjadikan semuanya itu (empat hal yang disebutkan) sebagai agama.”[2]
Hal tersebut tidaklah menunjukkan bahwa rukun agama ada tiga, tapi adaempat seperti yang telah Rasulullah Saw sebutkan dalam hadits Jibril. Pendapatbahwa rukun agama itu ada empat akan lebih jelas lagi ketika kita melihathadits Jibril yang dikenal sebagai umm as sunnah dan diriwayatkan olehImam Bukhori dan Imam Muslim. Hadits tersebut berbunyi:
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا» ، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ، وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» ، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا، قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ» ، قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ 

السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ».رواهالبخاري ومسلم
Artinya: Dari Umar bin Khattab ra: Ketika kamiberada dengan Rasulullah SAW suatu hari, muncullah seorang lelaki yang pakaiannyasangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat sisa perjalanan diwajahnya dan tak seorang pun dari kami yang mengetahui orang itu. Duduklah iadi hadapan Nabi Muhammad, kemudian ia sandarkan kedua lututnya kepada kedualutut Rasulullah, dan ia letakkan kedua telapak tangannya di atas pahaRasulullah dan ia berkata: Wahai Muhammad, beritahu saya tentang Islam…kemudian Rasulullah menjawab: Islam adalah bahwa kamu bersaksi bahwasanya tiadatuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikansholat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan berhaji ke albeit (Kakbah) jikakamu mampu. Kemudian orang itu berkata: Kamu benar! Umar berkata: Kami merasaheran kepada orang itu, dia bertanya kepada Nabi Muhammad dan kemudian membenarkannya………hingga perkataanorang itu: Maka beri tahu aku tentang hari kiamat. Kemudian Rasulullahbersabda: orang yang ditanya tentangnya/hari kiamat (maksudnya adalahRasulullah) tidak lebih tahu daripada yang bertanya (yaitu Jibril). Kemudianorang itu berkata: Maka beritahulah aku tentang tanda-tandanya. Rasulullahbersabda: Ketika seorang budak perempuan melahirkan pemiliknya atau nyonyanya,dan ketika kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian, miskin,penggembala kambing saling tinggi meninggi dalam bangunan. Umar berkata:kemudian orang itu pergi, dan aku terdiam cukup lama, dan Rasulullah bersabdapadaku: Wahai Umar, apa engkau tahu orang yang bertanya tadi? Aku berkata:Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya iaadalah Jibril datang mengajarkan kalian agama kalian. Di riwayat laindisebutkan, perkara agama kalian.
Dari kesatuanpembahasan hadits di atas, dapat kita fahami bahwa rukun agama ada empat, yaituiman, Islam, ihsan dan ilmu hari kiamat atau tanda-tandanya. Hal itu karenaRasulullah bersabda bahwa Jibril datang menjelaskan agama kita, sedangkan yangtercakup dalam hadits tersebut adalah keempat hal yang kita maksudkan tadi.Selain itu, kalau misalnya kita ingin mengeluarkan ilmu hari kiamat atautanda-tandanya dari rukun agama, kita mesti mempunyai dasar kuat yang bisamengeluarkan hal tersebut dari kesatuan pembahasan dalam hadits tersebut.
Pemaparan di atassebenarnya bertujuan agar kita kembali menyadari bahwa semua yang tercantumdalam hadits Jibril (ummul hadits) merupakan dasar-dasar dalam agama Islam.Islam, iman, ihsan, dan ilmu hari akhir. Apalagi jika kita melihat kepadakehidupan yang sedang berjalan di hadapan kita, di mana banyak sekaliperselisihan dan fitnah-fitnah yang menggelincirkan orang muslim darikebenaran. 
Selain itu, sudahsangat tampak sekali apa yang sudah disabdakan Rasulullah Saw lebih dari seribuempat ratus tahun yang lalu, bahwa di akhir zaman orang-orang muslim akanbanyak dari segi kuantitas, namun tidak dari segi kualitas. Sehingga umat Islamdi akhir zaman sebagaimana disabdakan oleh Kekasih kita, Rasulullah Saw,seperti buih yang sangat ringan dan dengan sangat mudah dibawa ke segala arah.Tak perlu bukti banyak, kita hanya tinggal melihat kepada keadaan umat Islamsekarang.
Mengkaji Hadits JibrilLebih Dalam Lagi
Dalam pembahasan ini penulis lebih menekankankepada pertanyaan terakhir Jibril kepada nabi Muhammad, yaitu ” makaberitahulah aku tentang tanda-tandanya”. Rasulullah bersabda: “Ketikaseorang budak perempuan melahirkan pemiliknya atau nyonyanya, dan ketika kamumelihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian, miskin, penggembalakambing saling tinggi meninggi dalam bangunan.” 
Hadits Jibril tersebut memang tidak menyebutkantanda-tanda hari kiamat satu persatu dan secara terperinci, namun dua tandayang disebutkan oleh Rasulullah sebagai jawaban terhadap pertanyaan Jibril bisadikatakan mencakup dan menggambarkan secara global tanda-tanda hari kiamat yangtidak berkaitan dengan fenomena alam yang akan terjadi, karena kalau kita kajilebih mendalam, kita akan mengerti bahwa maksud dari ketika seorang budakperempuan melahirkan pemiliknya atau nyonyanya adalah kerusakan dan fitnah yangterjadi di bidang agama dan ilmu pengetahuan.
Adapun tanda kedua yang disebutkan Rasulullahadalah ketika kita melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian,miskin, penggembala kambing saling tinggi meninggi dalam bangunan. Secaraimplisit dapat dipahami – sebagaimana dikatakan oleh Habib Abu Bakar Al-Adni –bahwa tanda tersebut melambangkan kerusakan di bidang ekonomi dan kekuasaan.
‘Ala kulli hal, banyak sekalitanda-tanda yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits yang pada akhirnyateks-teks yang banyak tersebut diklasifikasikan menjadi tiga bagian pokok,tanda-tanda kecil, menengah dan tanda-tanda besar. Meskipun tidak semua,penulis berusaha untuk menyebutkan beberapa tanda-tanda hari kiamat sesuaidengan klasifikasi di atas sesuai yang disebutkan oleh Habib Abu Bakar Al-Adnidalam kitabnya[3].

Adapun tanda-tanda hari kiamat yang kecildiantaranya: kabar gembira para nabi akan datangnya nabi terakhir, NabiMuhammad,  peringatan para nabi akandajjal dan keburukannya, perang Badar, Uhud dan Khondaq, peperangan danperbedaan dalam agama dan banyak lagi tanda-tanda yang lainnya.
Adapun contoh dari tanda-tanda hari kiamat yangmenengah adalah kewafatan kekasih kita, Rasulullah SAW, terbunuhnya Umar binKhattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Imam Husain, munculnya masanegara-negara kecil dan perpecahan, dan banyak lagi tanda-tanda yang lainnya.
Dan contoh tanda-tanda hari kiamat yang besarantara lain: munculnya Imam Mahdi, dajjal, Isa AlMasih, Ya’juj dan Ma’juj, asaptebal, dan banyak lagi tanda-tanda lain yang pada akhirnya akan berakhir denganhari kiamat yang tak seorangpun mengetahuinya.
Fitandan Tindakan Seorang Muslim
Fitnah adalah cobaan yang bersifat umum ataumenyeluruh yang menimpa perorangan ataupun umat Islam secara keseluruhan danberpotensi menyebabkan tergelincirnya orang tersebut dari jalan yang telahditentukan oleh syariat[4].Fitnah seperti ini dapat kita lihat dalam surat al-Kahfi, di mana Allah Swttelah menyebutkan beberapa fitnah, seperti fitnah dalam agama yang dihadapioleh sekelompok pemuda sehingga mereka memilih jalan untuk menyendiri di sebuahgua dengan tujuan menyelamatkan agama mereka. Fitnah juga bisa diartikansebagai ujian bagi seorang muslim yang mana dengan bersabar menghadapi ujiantersebut dia bisa mendapatkan pahala, seperti fitnah atau ujian harta,keturunan, keluarga dan semacamnya.
Rasulullah Saw dalam banyak kesempatanmenjelaskan kepada kita tentang apa saja yang akan terjadi setelah kepergianbeliau dan apa yang harus dilakukan di setiap kejadian tersebut. Maka dari itu,cukup banyak kita temukan teks-teks hadits yang mengungkap dan meneropong masadepan.
Seperti yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’an,Rasulullah SAW tidaklah berbicara dengan dorongan hawa nafsu, tapi semuaperkataan beliau adalah wahyu. Satu persatu sabda Rasulullah Saw terungkapmulai dari terbunuhnya Umar, Utsman, Ali, munculnya Bani Umayyah, BaniAbbasiyyah, Bani Utsmaniyyah, dan banyak lagi kejadian-kejadian yang telahRasulullah sebutkan. Semuanya sudah terjadi, kita tinggal menunggu hal-hal yangakan terjadi di waktu mendatang baik dalam waktu sangat dekat atau waktu dekatini sesuai sabda Rasulullah SAW.

Yang jelas, seperti yang telah Rasulullahsebutkan dalam banyak hadits beliau, umat beliau akan menghadapi banyak fitnahdan fitnah-fitnah itu merupakan ‘persiapan’ untuk fitnah yang terbesar, yaitu fitnahdajjal. Rasulullah Saw bersabda, “… dan tidaklah fitnah itu dibuat, baik itufitnah kecil ataupun besar melainkan untuk fitnah dajjal.”[5]
Dalam sebuah kesempatan Rasulullah Sawsebagaimana diriwayakan oleh Abu Zaid al-Anshori, melaksanakan sholat Subuh dankemudian beliau menaiki mimbar beliau, kemudian beliau berkhutbah hingga waktuDluhur, kemudian beliau sholat Dluhur, lalu beliau naik mimbar lagi danberkhutbah hingga waktu Ashar, kemudian beliau sholat Ashar dan lantas menaikimimbar lagi dan berkhutbah hingga matahari terbenam. Maka, orang yang palingtahu di antara kami, para sahabat adalah orang yang paling hafal[6].Hadits serupa juga diriwayatkan oleh beberapa sahabat lainnya seperti sayyidinaUmar, Hudzaifah bin AlYamaan, Anas dan lainnya.
Rasulullah Saw juga sudah menyebutkan fase-faseyang akan dihadapi oleh umat beliau. Setelah melihat kepada beberapa teks-tekshadits, dapat disimpulkan bahwa fase-fase yang akan dihadapi oleh umat beliauadalah sebagai berikut[7]:
a)      Fase kenabian
b)     Fase khulafa’ rasyidin (30 tahun)
c)      Fase kerajaan yang ‘menggigit’ (Dinasti Umayyah {45-132} dan Abbasiyah{132-656})
d)     Fase negara-negara kecil dan perpecahan (disebabkan oleh serangan Mongolia danPerang Salib)
e)      Fase Dinasti Utsmaniyyah
f)       Fase ‘buih’yang mencakup banyak fase
g)     Fase Imam Mahdi
h)     Fase Dajjal
i)       Fase Nabi Isa
j)       Fase Ya’juj dan Ma’juj
k)     Fase pengangkatan tauhid
l)      Hari kiamat.
Maksud kita mengidentifikasi fase-fase seperti diatas bukan untuk menentukan kapan akan terjadinya hari kiamat, akan tetapi agarkita tahu, sadar dan paham kita sedang berada di masa yang mana, apa yang akandatang dan apa yang harus kita lakukan di setiap fase yang kita hadapi sesuaidengan petunjuk Rasulullah Saw.
Dari fase ‘a’ hingga fase ‘e’ sudah jelasberlalu, dan sangat penting kita tahu – sesuai dengan pendapat Habib Abu BakarAl-Adni dan beberapa pakar ilmu akhir zaman – bahwa kita berada dalam fase yangkeenam, yaitu fase buih yang dalam hadits Rasulullah Saw disebutkan bahwaumat  Islam ketika fase itu laksana buih“Ghutsaa’”.
Adabeberapa petunjuk dari Rasulullah Saw kepada kita, umat yang sangat beliaucintai mengenai apa saja yang harus kita lakukan ketika kita menghadapifitnah-fitnah yang terjadi. Semua itu tak lain merupakan wujud kasih sayangbeliau kepada kita agar kita tidak terjatuh ke dalam jurang yang sama dalamsejarah yang terulang. Di antara tindakan-tindakan kita adalah:
1.      Kembali menghidupkan dan mengamalkan ajaran dan petunjuk-petunjukRasulullah Saw.
2.      Menjauhi fitnah-fitnah yang sedang terjadi.
3.      Menjaga lisan dan tangan.
4.     Bersabar terhadapprinsip keselamatan sekalipun sangat sulit melihat bahwa di akhir zaman memangakan terjadi penyimpangan yang sangat besar.
Penutup
Setelah penjelasan di atas, maka dapat penulissimpulkan bahwa ilmu fikih tahawulat ini sangat penting dan berpengaruh bagimasa depan umat Islam secara keseluruhan dan juga bagi setiap person dari umatRasulullah Saw. Dengan ilmu ini, seorang muslim bisa memiliki gambaran mengenaihal-hal yang akan dia hadapi dan juga sekaligus menentukan sikap dan tindakanyang harus dia ambil ketika menghadapi berbagai hal yang bisa menjerumuskan diake jurang kesesatan dan perangkap setan.
Demikian yang bisa penulis tulis mengenai ilmuFiqh Tahawwulat ini, meskipun sebenarnya ilmu ini memiliki lima cabang. Namun, melihat kapasitas forum,waktu dan juga beberapa faktor lain, maka penulis hanya menjelaskan sedikit halmengenai satu dari limacabang ilmu itu. Semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat bagi generasi kitadan generasi-generasi setelah kita. Juga, semoga Allah selalu menyelamatkankita, orang tua kita, keluarga kita, orang yang kita cintai dan semua umatIslam. Amiin. Shollu ‘ala Rosulillah, Wallahu A’lam…

 

 

* Penulis adalah mahasiswasemester Akhir (Mustawa V) Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff,Tarim-Hadramaut, Yaman, asal Madura.

 
[1]- An-Nubdzah As-Shugro, h 16.

[2]- Shohih Bukhori, 1/86

[3]-An-Nubdzah As-Shughro, Hb. Abu Bakar Al-Adni, h 43-48.

[4]-An-Nubdzah As-Shughro, Hb. Abu Bakar Al-Adni, h 21.

[5]- HR. Ahmad, Al-Bazzar.

[6]- HR. Muslim 2892.

[7]- An-Nubdzah As-Shughro, Hb. Abu Bakar Al-Adni, h 40-42.