Rahasia Lisan Dan Hari Para Wali

January 9, 2017 by abahzaky2014

Oleh habib AAA, MjT.

 

RAHASIA LISAN & HATI PARA WALI 
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam meraih derajat makrifatullah,krn engkau akan menyelam bersama-Nya,kokoh dgn keteguhan diri menuju kepada Allah,serta dgn ilmu-Nya engkau menuju kepada-Nya.
Perkataanmu adalah cermin hatimu.

Lisanmu adalah penerjemah hatimu.

Jika hati seseorang bercampur-baur banyak perkara,maka dia kadang berkata benar & kadang berkata salah.

Dia tdk dpt mengubah apa yg tersembunyi dlm hati. Jika hati seseorang telah terbebas dari syirik,maka lisannya akan lurus & benar.

Jika dia bersekutu & mengikuti sifat makhluk,m aka dia dapat berubah, terpeleset & berdusta. 
Karena itu di antara para pembicara,ada orang-orang yg berbicara dari hatinya,ada pula yg berbicara dari rahasianya, & bahkan ada yg berbicara dari hawa nafsu,setan & kebiasaan buruknya.
Jika engkau mencintai atau membenci seseorang,janganlah cinta & bencimu berlandaskan hawa nafsu dari tabiat burukmu,tapi ukurlah dgn Al-Qur’an & Sunnah.

Jika apa yg engkau cintai sesuai,maka cintailah terus menerus.

Demikian pula jika kau membenci pada seseorang.

Jika kebencianmu tdk mendatangkan manfaat, maka dekatilah hati orang-orang shaleh & bertanyalah kpd mereka. Karena hatinya adalah kebenaran.Jika hatinya benar,maka dia akan benar di sisi Allah.

Jika hati beramal dgn Al-Qur’an & Sunnah,maka ia akan menjadi dekat kepada-Nya, serta akan mengetahui hak & kewajibannya sendiri.Dia tahu apa yg harus ditunaikan untuk Allah & apa yg harus dilakukan kepada sesuatu selain-Nya.
Jika seorang Mukmin saja mampu memiliki cahaya yg menerangi penglihatannya,apalagi orang-orang yg benar (Shiddiq) & dekat kpd Allah.Orang Mukmin memiliki cahaya yg digunakan untuk memandang sesuatu, karena Nabi telah memperingatkan tentang ketajaman penglihatannya. Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah kpd firasat orang Mukmin,k rn dia melihat dgn cahaya Allah.”
Orang yg ‘arif & dekat kepada Allah,juga diberi cahaya sehingga dpt melihat kedekatan antara dirinya dgn Allah.Dia mampu melihat ruh para malaikat,nabi,hati & ruh orang-orang shiddiq , serta melihat keadaan & kedudukan mereka. Selamanya dia bergembira bersama Allah.

Dia berpisah dgn makhluk. Di antara mereka ada yg lisan & hatinya mengetahui.

Ada pula yg hatinya mengetahui & lisan menjadi juru bicaranya. Sedangkan orang munafik, lisannya mengetahui, namun hatinya gagap. Semua ilmunya hanya di mulut saja,sedangkan hatinya buta.”
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dlm kitab  Al-Fath Ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani