MAKNA I’TIKAF DI AKHIR RAMADHAN

June 26, 2016 by abahzaky2014

copas dari mjt grup
MAKNA I’TIKAF DI AKHIR RAMADHAN
I’tikaf berasal dari kata-kata bahasa arab “‘akafa-ya’kifu-wukufan”. Menurut bahasa, makna I’tikaf adalah menetapi dan menahan diri padanya, baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan. Sedangkan arti I’tikaf menurut istilah syara’ ialah berdiamnya seorang muslim di dalam mesjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah.
Dalam al Quran ada beberapa ayat berkaitan dengan I’tikaf, diantaranya dalam surah al Baqarah ayat 87 yang artinya : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
Terdapat beberapa hadis berkenaan dalam I’tikaf, seperti hadis dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis yang lain dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri’tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri’tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhari).
 Diantara pahala I’tikaf, Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa : “Barangsiapa yang beri’tikaf sepuluh hari di bulan Ramadan, maka baginya pahala dua haji dan dua umroh.” (Hadis riwayat Al Baihaqi).
Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda i’tikafnya.” (Hadir riwayat Al-Bukhari dan Muslim). ‘
Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah merwafatkan beliau. Kemudian para istri beliau beri’tikaf setelah beliau meninggal.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)
Hukum I’tikaf ada dua macam, yaitu I’tikaf sunnat dan I’tikaf wajib.I’tikaf Sunnat ialah I’tikaf yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela denga tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapan pahala dari pada-Nya, serta mengikuti sunnah Rasulullah. I’tikaf sunat yang paling utama adalah I’tikaf yang dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah setiap bulan Ramadhan sampai beliau wafat.
Sedagkan I’tikaf Wajib Ialah I’tikaf yang diwajibkan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri, adakalanya dengan nadzar mutlak, misalnya ia mengatakan,”wajib bagi saya I’tikaf karena Allah selama sehari semalam.” Atau dengan nadzar bersyarat, misalnya ia mengatakan, “jika Allah menyembuhkan penyakit saya, maka saya akan I’tikaf dua hari dua malam.” Nadzar I’tikaf seperti ini wajib hukumnya untuk dilaksanakan.
Umar bin Khattab, pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “ya Rasulullah, saya pernah bernadzar di zaman jahiliyah akan ber’I’tikaf satu malam di masjid Haram?” Sabda beliau, “penuhilah nadzarmu itu!”.(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).
Waktu I’tikaf yang wajib, dilakukan sesuai dengan apa yang telah dinadzarkan dan diiqrarkan seseorang, maka jika ia beradzarkan dan di ikrarkan seseorang, maka jika ia bernadzar akan beri’tikaf satu hari atau lebih, hendaklah ia penuhi seperti yang dinadzarkan itu. 
Adapun I’tikaf yang sunnat, tidaklah terbatas waktunya. Namun yang paling utama adalah I’tikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Aisyah, menyatakan bahwa : “ Nabi, biasa melakuan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sampai beliau wafat kemudian istri-istri beliau melaksanakan I’tikaf sepeninggalan baginda rasul.” (riwayat Bukhari, Ahmad, dan Baihaqy).
Ada beberapa amalan yang dapat dilakukan dalam I’tikaf di akhir ramadhan seperti shalat-shalat sunat umpana shalat tahajjud, shalat tasbih, shalat duha, dan shalat sunat mutlak, yaitu shalat sunat yang dilakukan baik siang atau malam, selama bukan di waktu yang di larang melakukan shalat seperti setelah shalat subuh sampai terbit matahari, waktu tengah hari, dan waktu setelah shalat ashar.
 I’tikaf juga dapat diisi dengan membaca al Quran, atau menghafal al Quran, juga dapat dengan membaca tafsir al Quran untuk tadabbur al Quran, mencari mutiara kehidupan dari ayat-ayat al Quran.
 Membaca al Quran juga bermakna membaca buku-buku yang berkaitan dengan segala ilmu yang berkaitan dengan al Quran, seperti ilmu hadis, ilmu fikah, ilmu tauhdid, atau ilmu sains yang berkaitan dengan ayat-ayat al Quran.
Amalan lain yang dapat dilakukan dalam I’tikaf adalah berzikir, bertafakkur, muhasabah diri, dan lain sebagainya. 

Maksud berzikir adalah melafadzkan zikir tasbih, tahmid, tahlil, atau membaca shalawat, membaca istighfar dan doa munajat kepada Allah.
 Muhasabah diri dalam waktu I’tikaf di akhir ramadhan merupakan amalan yang sangat penting. Jika dalam hari biasa kita muhasabah diri dengan melihat apa kekurangan dan dosa kita pada hari-hari yang kita lalui, maka dalam waktu sepuluh hari I’tikaf di bulan ramadhan kita melihat kembali perjalanan hidup kita selama setahun, apakah sudah sesuai dengan perintah Allah dan petunjuknya, baik di dalam ibadah kita, dalam bekerja mencari nafkah, dalam mengurus rumah tangga, dalam bertetangga, dalam bermasyarakat, dalam memimpin organisasi, memimpin perusahaan, memimpin negara dan lain sebagainya.
Dalam sepuluh hari tersebut diharapakan kita dapat melakukan evaluasi tahunan atas apa yang telah kita kerjakan, sehingga kita mendapatkan hal apa yang harus kita perbaiki di tahun mendatang. Melihat amalan apakah yang belum dilakukan pada tahun yang lalu dan amal apakah yang perlu dilakukan, ditingkatkan, pada tahun akan datang. Inilah muhasabah tahunan yang kita lakukan dalam beri’tikaf di bulan ramadhan selama sepuluh hari. Setelah kita mengetahui kekurangan kita dalam yang lalu, maka kita merancang hidup kita pada tahun mendatang. Rancangan dan program hidup yang kita rancang kita laporkan kepada Allah dan kita berdoa dan bermunajat kepadaNya agar dapat dimasukkan dalam daftar kekentuan takdir tahunan yang akan diputuskan Allah di malam lailatul qadar.Dengan bahasa manajemen,kita melakukan analisa swot (meneliti kekuatan dan potensi diri, mengevaluasi kelemahan dan kekurangan, melihat peluang di masa depan dan menperhitungkan tantangan di tahun mendatang) sekaligus merancang langkah yang harus dilakukan setelah ramadhan dan memanjatkan doa agar rancangan tersebut disetujui oleh Allah Taala sewaktu Allah menentukan takdirNya di malam lailatul qadar.
 Oleh sebab itu dapat kita katakan bahwa waktu I’tikaf di akhir ramadhan itu merupakan waktu kita melakukan evaluasi atas kehidupan kita di tahun yang lalu, kemudian kita beristighfar meminta ampunan atas kesalahan tersebut, sekaligus kita merancang kehidupan yang lebih baik untuk tahun-tahun mendatang, kemudian bertafakkur memikirkan langkah dan program di masa mendatang dan hasil tafakur tersebut kita konsultasikan kepada Allah, dalam munajat dab doa agar semua program dan langkah yang kita rencanakan tersebut dalam diterima oleh Allah sehingga dapat ditetapkannya dalam keputusan takdirNya di malam lailatul qadar, sebab malam lailatul qadar itu adalah malam dimana Allah akan menetapkan segala keputusan taqdir manusia untuk setahun mendatang, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran bahwa “ pada malam tersebut ( malam lailatul qadar ) akan diputuskan segala urusan dengan penuh bijaksana “ ( QS. al Dukhan :4). 
Itulah sebabnya mengapa malam lailatul qadar itu terdapat di malam-malam sepuluh akhir ramadhan dimana itulah malam-malam waktu I’tikaf yang paling utama dalam kehidupan seorang muslim. Mari kita sama-sama mempersiapkan diri kita untuk mengikuti rapat tahunan diri kita bersama Allah (annual meeting) di rumah-rumah Allah, dengan melakukan I’tikaf di masjid selama sepuluh hari di akhir ramadhan. Kita harap dengan muhasabah tahunan, tafakkur, dan munajat yang kita panjatkan di hari-hari I’tikaf tersebut, maka Allah akan menetapkan takdir yang terbaik untuk kita di tahun mendatang, sehingga hidup kita setelah ramadhan akan lebih bermakna, meningkat daripada kehidupan ditahun yang lalu. 
Selamat I’tikaf di akhir ramadhan, selamat bermuhasabah, istighfsr dan munajat..siapkan program terbaik untuk hidup anda di tahun mendatang. Selamat mengikuti rapat tahunan di rumah Allah, demi mencapai kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang. 
Selamat beri’tikaf..selamat mendapat keputusan terbaik di malam lailatul qadar..Wallahu a’lam.

(Muhammad Arifin Ismail/Buletin Istaid Medan /Jumat 19 Ramadhan 1437)