Sholat Khusuk Menurut Nurcholis Madjid

April 22, 2016 by abahzaky2014

Copas dari grup wetan

 

Catatan Nurcholis Madjid #13:
Shalat Yang Khusuk 
Ibadah shalat yang baik yang dapat memberikan efek ruhaniah kepada pelakunya, adalah shalat yang khusyuk. Kualitas atau kondisi khusyuk sendiri merupakan gambaran sikap batin yang sangat sulit dicapai atau dikendalikan. 
Itulah sebabnya khusyuk tidak termasuk dalam pembahasan fiqih untuk menjadi syarat dan rukun sah shalat. Meskipun untuk mencapai derajat khusyuk merupakan hal yang sulit, namun tidak berarti bahwa dalam menjalankan shalat orang terus menerus hanya sekedar mengejar batas sahnya shalat dalam pandangan fiqih saja. 
Kita diwajibkan berupaya (mujâhadah) untuk dapat mencapai derajat khusyuk tersebut karena di situlah tersembunyi pesan-pesan shalat. Shalat yang khusyuk adalah shalat yang mampu menghadirkan kesadaraan adanya komunikasi yang sungguh-sungguh antara hamba dan Allah Swt. Di sini ditemukan hakikat shalat sebagai medium atau sarana untuk selalu ingat kepada Allah Swt. 
Inilah yang dimaksudkan dengan dimensi fungsional shalat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran,  
“Sungguh, Akulah Allah; tidak tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingat Aku” (Q., 20: 14). 
Shalat tidak hanya dibatasi oleh wujud tingkah laku lahiriah berupa gerakan dalam shalat, tapi juga harus memberikan efek kepada kesadaraan ruhani: sebagai konsekuensi setelah melakukan komunikasi dan dialog dengan Tuhan. Ini perwujudan dimensi vertikal. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda, 
“Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kalian, tetapi Allah akan melihat hati-hati kalian.” 
Dalam amalan ibadah shalat ditemukan adanya tahapan-tahapan. Pertama, tahapan lahiriah yang diwujudkan dalam bentuk gerakan, seperti menggerakkan anggota badan dan membaca bacaan shalat. Kedua tahapan komunikasi antara hamba dengan Allah Swt: yang berwujud memahami bacaan shalat yang dibaca. Ketiga, tahapan spiritual; yang efek atau pengaruhnya tidak dapat dilihat oleh mata namun dapat dirasakan dalam batin atau jiwa. Misalnya munculnya hati yang tenang, hati yang mantap, tidak mudah diombang-ambingkan oleh dorongan yang dapat menjerumuskan pada kejatuhan moral atau spiritual. 
Itulah sebabnya shalat juga mampu menjadi momen yang efektif untuk mendapatkan jalan keluar dan jalan alternatif dari kebuntuan (deadlock) permasalahan sehari-hari. Kenapa? Karena shalat yang khusyuk selalu diiringi dan diliputi oleh kesadaraan seseorang akan kehadiran Allah Swt sebagai tempat bergantung dan kembali. Ia meyakini bahwa Allah Swt Maha segala-galanya, Maha Mengetahui (omniscient), Maha Hadir (omnipresent), dan Maha Kuasa (omnipotent). 
Seperti ibadah puasa yang bertujuan mencapai derajat atau kualitas takwa dalam arti rabbânîyah, maka ibadah shalat dimaksudkan untuk mendapatkan perkenan atau ridla Allah Swt. Karena itu, ibadah shalat juga akan melahirkan budi luhur sebagaimana ibadah puasa.
[Munawar-Rachman (2012), halaman 3031-3032]
Referensi

Munawar-Rachman, Budhy (2012), “Ensiklopedi Nurcholis Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban”, Penerbit Mizan.