Tingkatan Kebahagiaan

April 6, 2016 by abahzaky2014

Copas dari grup wetan.

 

Catatan Nurcholis Madjid #9
Tingkat-Tingkat Kebahagiaan 
Pemahaman manusia tentang arti kebahagiaan ternyata bertingkat-tingkat. Ada kebahagiaan fisik atau biologis, ada kebahagiaan yang sekarang ini disebut dengan kebahagiaan psikologis (nafsîyah), dan ada pula kebahagiaan ruhaniah atau beriman. Tingkat kebahagiaan yang terakhir inilah yang dianggap paling tinggi. 
Orang yang secara lahir bahagia, belum tentu ia juga bahagia secara psikologis dan spiritual. Juga orang yang bahagia secara psikologis, belum tentu ia bahagia secara fisik dan spiritual, dan seterusnya. Dalam ajaran Islam, manusia telah diajarkan untuk mengejar dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni kebahagiaan ruhaniah atau spiritual yang merupakan perwujudan kebahagiaan yang hakiki. 
Dalam memahami agama, orang juga mengalami pengelompokan, ada yang hanya dapat mamahami ajaran Islam dari segi-segi lahiriah, disebut ‘awâm al-nashsh atau kelompok orang awam (common people). Pemahaman kelompok ini terhadap ajaran agama Islam juga absah dan dibenarkan. Seperti yang terjadi pada zaman Rasulullah ketika seorang Badui ditanya Rasulullah Saw., di mana Allah Swt. berada, kemudian orang tadi menunjukkan tangannya ke langit dan Rasulullah membenarkannya. Padahal, pemahaman seperti itu jelas berlawanan dengan pernyataan Kitab Suci Al-Quran, yang mengatakan bahwa Allah Swt. ada di mana-mana. 
Berkenaan dengan kasus penggambaran surga, umpamanya, AlQuran sering menggunakan bahasa-bahasa metafor dan simbol-simbol atau tamsil sehingga orang awam mudah memahaminya. Sebagai contoh, dalam sebuah surat surga dilukiskan sebagai sebuah tempat yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir di bawahnya dan taman-taman yang indah dan dipenuhi dengan beraneka macam buah-buahan. 
Di sisi lain, ada pula kelompok yang memahami Al-Quran dari substansinya, disebut kelompok orang al-khâshsh, kelompok khusus, elite (special people). Pemahaman ajaran agama kelompok ini juga sah.
Al-Quran membuktikan pula dengan kasus penggambaran tentang surga, ada juga yang menggunakan ungkapan-ungkapan yang sama sekali berbeda sehingga orang awam tidak akan bisa memahaminya, seperti:  
“Tiada seorang pun tahu cendera mata apa yang masih tersembunyi bagi mereka (yang menyedapkan pandangan mata—NM) sebagai balasan atas amal kebaikan yang mereka lakukan”. (Al-Quran, 32: 17)
Yang demikian itu kemudian diilustrasikan dengan gaya bahasa yang sama dalam sebuah hadis Qudsi:
“Disiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa-apa yang tidak dapat dipandang mata, tidak didengar telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati seseorang manusia.” 
Dengan begitu, pendeknya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kategorisasi atau pengelompokan islam, iman, dan takwa serta adanya kelompok-kelompok atau golongan orang awam, elite, dan lebih khusus, adalah hal yang diakui dan dijustifikasi keberadaannya.
[Munawar-Rachman (2012), halaman 3436-3437]

Referensi

Munawar-Rachman, Budhy (2012), “Ensiklopedi Nurcholis Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban”, Penerbit Mizan.

Tanggalan

April 2016
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 140,689 hits
web
statistics