Pojok Bang Aje : Hikmah

March 31, 2016 by abahzaky2014

Satu lagi tulisan enak dari Bang Aje.

 

”Every tree and plant in the meadow seemed to be dancing those which average eyes would see as fixed and still”(J. Rumi) Keagungan Tuhan dengan ciptaanNya yang ada dan menyekitari kehidupan serta kedirian kita acap takmau dan takmampu kita fahami dengan baik. Apalagi dengan mendalam. Kehidupan manusia modern yang cenderung mekanistik dan robotik melihat kesemuanya sebagai sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Bangun tidur, berdoa/ membaca ayat-ayat Kitab Suci, mandi pagi, sarapan, langsung berangkat menuju ketempat kegiatan. Itu ritme yang standar dengan sedikit pengurangan atau penambahan. Dan sejujurnya, apalagi dalam usia produktif, status sebagai pimpinan puncak, takmampu lagi menikmati atau berefleksi tentang ciptaan Tuhan yang keindahannya tiada terbandingkan. Mentari yang berpijar binar, lambaian pucuk-pucuk cemara ditepi bebukitan, bunga mawar merah yang mekar dan harum menebar, gemericik air yang menggoreskan keheningan pagi, kicau burung, semuanya kita anggap hal biasa. Takmasuk lagi dalam memori kita. Kita, seperti yang dibilang seorang penulis Belanda Anemarie Schimmel, sibuk dengan angka-angka: pukul berapa tiba dikantor jika jalan macet, berapa margin keuntungan yang diperoleh, berapa orang peserta seminar kita dsb dsb. Kita hampir seperti robot-robot kecil yang melangkah tanpa mesti berpikir keras. Mungkin ini dampak( atau dosa?) dari sebuah modernisasi? Tatkala dimensi relasional, aspek intrinsik, sentuhan kemanusiaan, menjadi tereduksi bahkan takpunya harga? Mata kita tidak tajam lagi melihat sesuatu yang bergerak, takbisa lagi memproduksi tafsir estetik terhadap apa yang kita lihat. Kuping, penciuman, perasaan ya semuanya rapuh digerus arus zaman. Rumi mengingatkan kita agar mata kita diangkat dari ‘rata-rata’ menjadi ‘lebih’ dan’super’ agar mampu menikmati pohon yang menari, pohon yang Allah cipta untuk kemaslahatan manusia. Selamat berjuang. God bless. Weinata Sairin.