Mukadimah karya Ibnu Khaldun Menurut Nurcholis Majid

March 25, 2016 by abahzaky2014

Copas dari grup sebelah wetan.

 

 
Review buku The Muqaddimah karya Ibn Khaldun (1)

Oleh Nurcholis Madjid

 
Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, di dunia Barat ada kesadaran baru mengenai ilmu sosial yang ada sangkut pautnya dengan Islam. Mereka mengakui bahwa sebetulnya bapak dari ilmu-ilmu sosial ialah Ibn Khaldun yang tampil sekitar abad ke-14. 
Ibn Khaldun, orang Muslim Spanyol keturunan Arab (Hadramaut), menulis buku yang sangat terkenal, yaitu Muqaddimah artinya pengantar. Tetapi, meskipun pengantar, buku itu tebal sekali. Buku itu diterjemahkan oleh Franz Rosenthal ke dalam bahasa Inggris dengan anotasi menjadi tiga jilid berukuran besar-besar. 

 
Buku Ibn Khaldun dinamakan Muqaddimah karena memang merupakan landasan teoretis tentang sejarah yang dia tulis menjadi buku yang jauh lebih besar dan berjili-djilid, berjudul Kitâb Al-‘Ibar. Kata Al-‘Ibar bisa berasosiasi dengan kata-kata pinjaman dari bahasa Arab, yaitu ibarat, atau mengambil tamsil (pelajaran yang tersembunyi). Jadi, Al-‘Ibar adalah kitab yang mengambil pelajaran-pelajaran. 

 

Dalam hal ini ia mengambil pelajaran dari sejarah bangsa Arab dan bangsa Barbar. 
Bangsa Barbar adalah bangsa Afrika Utara yang diislamkan dan pada masa sekarang sebagiannya mengaku sebagai orang Arab (karena berbahasa Arab), tetapi sebagian lagi tidak. Bangsa Barbar ini banyak memainkan peranan dalam peradaban Islam. Tariq ibn Ziyad yang memimpin tentara Islam menaklukkan Spanyol atau Semenanjung Iberia juga adalah orang Barbar, bukan orang Arab. 
Pengamatan Ibn Khaldun memang terbatas hanya kepada orang Arab dan orang Barbar. Dia tidak tahu Cina, India, bahkan Persia pun kurang, karena dia hanya hidup di sana. Namun demikian tesis-tesis dia mengenai sejarah itu cukup tinggi tingkat generalisasinya, sehingga menurut banyak orang ia dapat diterapkan kepada gejala-gejala yang lain.
Dorongan Ibn Khaldun untuk mempelajari sejarah adalah agama. Ini sama dengan berbagai kreativitas ilmiah Islam di zaman klasik entah di bidang astronomi, ilmu bumi, matematika, dan sebagainya, yang semuanya didorong oleh agama. Itu dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya, bagaimana menemukan kiblat dari satu tempat. 
Umat Islam adalah pencipta yang sebenarnya dari ilmu bumi dan matematika. Oleh karena itu, sampai sekarang istilah-istilahnya masih dari bahasa Arab, meskipun sudah menjadi bagian dari bahasa Barat. 
Ibn Khaldun mengaku telah berusaha menciptakan ilmu yang disebut ilmu peradaban (‘ilm al‘umrân). Seperti biasa, di sini ada soal kebahasaan. Kata peradaban dalam bahasa kita jelas merupakan pinjaman dari bahasa Arab, adab yang artinya tingkah laku yang halus. Karena itu, ia terkait juga dengan sopan santun, tata krama, dan juga sastra; karena sastra merupakan medium ekspresi dari hal-hal seperti itu. Lalu menjadi peradaban. 
Bersambung.
[Munawar-Rachman (2012), halaman 2126-2128]
Referensi

Munawar-Rachman, Budhy (2012), “Ensiklopedi Nurcholis Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban”, Penerbit Mizan.
CEO Facebook Mark Zuckerberg bukan satu-satunya yang tertarik membaca buku The Muqaddimah (Mukadimah) karya Ibnu Khaldun. Ribuan orang Indonesia juga tertarik membaca pemikiran intelektual Muslim yang dianggap sebagai bapak ilmu sejarah dan ilmu sosial dunia ini.
Mukadimah merupakan karya paling ternama dari Ibnu Khaldun yang wafat di Mesir pada 19 Maret 1406. Ia lahir di Tunisia pada 1332.
selengkapnya : http://news.detik.com/berita/3172831/tak-hanya-dibaca-zuckerberg-buku-the-muqaddimah-juga-laris-di-indonesia
 http://m.detik.com/news/indeksfokus/1572/mengenang-ilmuwan-muslim-ibnu-khaldun/berita