KEDALAMAN FIQH DAN HADITS AL ‘ALLAMAH AS SAYYID AHMAD BIN MUHAMMAD AL MUHDHOR

March 24, 2016 by abahzaky2014

Copas dari MJT grup

 

KEDALAMAN FIQH DAN HADITS AL ‘ALLAMAH AS SAYYID AHMAD BIN MUHAMMAD AL MUHDHOR
Terik matahari memanggang kota Makkah. Masjidil Haram tengah disesaki jamaah haji. Hari itu Jumat. Seorang khatib berdiri di atas mimbar. Ia membacakan sebuah khutbah yang teramat panjang.
Lama sekali sang Khatib berkhutbah. Jamaah tersiksa oleh sengatan siang. Maklum,,,saat itu bertepatan musim panas. Keringat bercucuran deras. Usai khutbah,,,sang Khatib mengimami sholat. Anehnya,,,,sholat kali ini dilakukan dengan sangat cepat. Surat yg ia pakai pun yang amat pendek2.
Setelah salam,,,seorang jamaah menghampiri khatib. Namanya Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor. Tangannya menggenggam sebatang tongkat yang biasa ia pakai untuk berjalan. 
Lalu tanpa diduga,,,sang habib menggebuk khatib dengan tongkat sembari berkata-kata lantang,,,”Kamu telah membolak-balik sunnah Rasulullah SAW. Mestinya kamu meringkas khotbah dan memanjangkan sholat.” Khatib itu berteriak kesakitan. “Hai orang-orang,,,aku dipukuli seorang Hadhrami…! Habib Ahmad menimpali,,,”Aku bukan Hadhrami,” ia lalu bersenandung,,,”Kami mengenal Batha’ (sebuah daerah di Makkah) dan ia mengenal kami. Bukit Shafa dan Baitullah (Ka’bah) pun mencintai kami.”
Kota Makkah geger, Sang Amir,,,,Syarif Muhammad geram. Diperintahkannya polisi untuk menangkap Habib Ahmad dan menghukumnya di depan khalayak. Keresahan melanda warga Hadhrami. Mereka mengkhawatirkan nasib habib mereka tercinta itu. “Tak usah khawatir! Ibundaku,,,Khadijah binti Khuwailid,,,selalu bersamaku,” ujar Habib Ahmad menenangkan. “Aku akan berlindung di tempatnya,” lanjutnya.
Saat itu juga ia bergegas ke kubbah Sayidah Khadijah RA,,,istri mulia baginda Nabi SAW. Dan sepasukan aparat keamanan pun mengejar di belakangnya. Sesampai di depan kubbah,,,peristiwa ajaib terjadi,,,pintu kubbah terbuka dengan sendirinya. Habib Ahmad punmasuk,,,dan pintu itu tertutup kembali. Para aparat b’usaha membuka,,,namun tak kuasa.
Mereka menemui juru kunci kubbah dan meminta kunci. Namun ia enggan menyerahkan. “Takkan kuberikan kunci ini kepada siapa pun.” Akhirnya dengan luapan amarah,,,mereka mengambil secara paksa. Berbekal kunci itu,,,mereka berhasil membuka pintu kubbah. Tapi ajaib,,,Habib Ahmad tak kelihatan batang hidungnya. Mereka mencari-cari,,,namun hasilnya nihil,,,ia seperti raib di perut bumi.
Para abdi raja itu akhirnya menyerah. Mereka melapor pada Syarif Muhammad perihal kejadian luar biasa itu. Syarif merasa takjub. Ia kemudian menanyai warga Hadhrami mengenai siapa sebenarnya Habib Ahmad. Ketakjubannya kian membumbung kala mengetahui kesejatian sosok Habib yang alim itu.
Penguasa Makkah itu kemudian mengadakan jamuan istimewa utk Habib Ahmad sbg tanda maaf. Sang Habib menyambut hangat. Di tengah jamuan itu,,,,Syarif Muhammad membujuk Habib Ahmad agar bersedia menetap di Makkah. Habib Ahmad tidak langsung menjawab ya ataupun tidak. “Aku tanyakan dulu kepada ibundaku,,,Khadijah Al-Kubra.” katanya. Beberapa hari kemudian,,,ia mendatangi Syarif dan memberi kabar,,,”maaf Amir,,,,Ibunda Khadijah menghendaki aku untuk kembali ke Quweireh.” Peristiwa itu terjadi pada musim haji tahun 1250 Hijriyah.
Habib Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Muhdhor lahir di kota Rasyid,,,Lembah Dhau’an, Hadramaut,,,thn 1217 Hijriyah. Saat masih kanak2,,,ia diboyong ayahnya ke Haramain. Di sana ia berhasil menghafal Al Quranul Karim dalam usia tujuh tahun dg bacaan yg bagus. Ia kemudian menekuni berbagai bidang pengetahuan. Di antara guru2nya di Makkah adalah: Syekh Umar bin A. al-Atthar,,,Syekh Muhammad Sholeh ar-Rais,,,Syekh Ahmad as-Showi al-Mishri dan Syekh Abdur-Rahman al-Kazbaniy.
Setelah bekal ilmunya lumayan mumpuni,,,ia mulai sering diajak mondar-mandir antara Makkah & Hadramaut oleh ayahnya. Ketika singgah di Hadhramaut,,,,ia menyempatkan diri menimba ilmu kpd ulama2 besar di sana,,,,spt Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr,,,Habib Abu Bakar bin Abdullah al-attas,,,,Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith,,,Habib Abdullah bin Idrus al-Barr,,,dan Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan.
Menginjak usia dewasa,,,ia memutuskan kembali ke kota Rasyid. Ia menempati rumah salah satu paman dari pihak ibunya yg merupakan keluarga besar marga Bazar’ah. Ia kemudian menikah dg seorang wanita sholehah dari keluarga al-Habsyi. Dari pernikahan ini ia dikaruniai putra & putri bernama Umar,,,,,Hamid,,,Hadun,,,Khadijah,,,dan lainnya. Selanjutnya,,,,setelah memiliki uang cukup,,,ia membeli sebuah rumah di daerah Quweireh. Di kota itu ia menikah lagi dengan wanita dari keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim-setelah istri pertamanya meninggal dunia.Pernikahan ke-2 ini membuahkan beberapa putra & putri,,,,di antaranya: Muhammad,,,Musthafa,,,dan Sholeh.
Dari kota inilah,,,,nama Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhor terus menjulang. Cahaya ilmu dan akhlaknya menerangi negeri Hadramaut,,,bahkan seluruh persada bumi. Ia dicintai kaum muslimin. Kalam2nya mudah diterima lubuk hati. Dan tersingkaplah nurbuwat yg pernah ditorehkan Syekh Umar Bamakhramah.
Ya,,,beratus tahun sebelumnya,,,Syekh Umar menulis untaian syair yg mengilustrasikan sosok Habib Ahmad al-Muhdhor. Dilukiskannya perangai Habib Ahmad beserta tempat2 yg pernah ia singgahi. Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr,,,salah satu guru Habib Ahmad,,,ketika membaca syair itu,,,ia berseru kepada orang-orang sekitarnya, “Katakan kepada Ahmad al-Muhdhor bahwa Syekh Bamakhramah mengajaknya bicara.”
Selain berilmu tinggi,,,,Habib Ahmad dikenal keras dalam mujahadah. Jauh hari,,,,ia telah menyiapkan liang kuburnya sendiri yg ditempatkan di sebelah masjidnya. Ia meluangkan waktu berbaring di liang itu setiap hari sembari membaca Al-Quran. Tercatat tujuh ribu kali khatam ia selesaikan di dalam kubur itu sebelum akhirnya meninggal dunia. 
Namun ia pribadi yang unik. Di balik kekhusyukannya itu,,,ia selalu menampakkan diri seolah-olah sebagai sosok jenaka. Ia pura-pura suka bergurau. Gurauannya bahkan kadang keterlaluan. Pernah ia menyesal dan berniat takkan bergurau lagi,,,akan tetapi ia langsung ditegur Rasulullah SAW dalam mimpi agar meneruskan kebiasaannya bergurau.
Hati Habib Ahmad memiliki pertautan yg erat dengan Ummul Mukminin,,,Khadijah al-Kubra. Ia menulis kumpulan syair yg memuji ibunda az-Zahra itu. Hikayat di atas adalah salah satu bukti. Dan akhirnya ia menyusul ibundanya itu pada tahun 1304 H,,,dalam usia 87 tahun. Ia meninggalkan beberapa putra yg sholeh. Salah satunya adalah Habib Muhammad al-Muhdhor, Bondowoso, seorang ulama besar yg pernah meramaikan blantika dakwah di Nusantara ini. Ia juga meninggalkan beberapa murid yang hebat. Di antaranya: Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi.
RABBi fanfa’na bibarakatihim wahdinal husna bihurmatihim, wa amitna bi thariqatihim wal mu’afatin minal fitani..