Palestina …, puisi Taufiq Ismail

March 8, 2016 by abahzaky2014

Copas dari sebelah wetan.
Inilah Syair Puisi Taufik Ismail yang Hipnotis Para Kepala Negara Anggota OKI

– Senin, 7 Maret 2016
 
Membacakan puisinya di atas panggung, mengenakan syal berbendera Palestina dan Indonesia, penyair Taufik Ismail “menghipnotis” puluhan kepala negara anggota Organisasi kerja Sama Islam, OKI, dalam jamuan makan malam kenegaraan jelang KTT Luar Biasa soal Palestina dan Al-Quds Al-Syarif di Jakarta, Minggu (6/3).
Puisi Taufik Ismail yang berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” mengisahkan soal kiblat pertama umat Islam, Masjidil Aqsa, yang kini dikuasai Israel walau berstatus quo. Taufik menyebut kelakuan Israel bak “kelakuan reptilia bawah tanah”, sembari menambahkan, “sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua.”
Semua peserta KTT Luar Biasa OKI dengan seksama mendengarkan setiap bait syair yang dituturkan Taufik dengan emosional. Puisi tersebut diterjemahkan ke bahasa Arab dan Inggris, agar bisa dinikmati oleh ratusan delegasi dan tamu yang hadir.
Dikutip dari CNN Indonesia, puisi tersebut digubah Taufik di tahun 1989, saat Israel melakukan agresi militer terhadap rakyat Gaza, menewaskan wanita dan anak-anak dalam peristiwa Intifada pertama.
Bagaimana isi syair puisi Taufik Ismail yang berhasil menghipnotis para kepala negara anggota OKI tersebut ? Berikut salinan puisinya :
Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu
Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer

dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir

dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran

di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan

mengepulkan debu yang berdarah.
Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan

apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di

Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor

agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-

gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas

mereka.
Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai

kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-

sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening

kita semua, serasa runtuh lantai papan surau

tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an

40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan

yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini

ditetesi airmataku.
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan

umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,

lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,

siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami

Indonesia jua yang dizalimi mereka –

tapi saksikan tulang muda mereka yang patah

akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,

pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh

si zalim ke neraka, An Naar.
Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-

Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim

Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-

cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami

semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-

sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami

pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan

kaligrafi
‘Allahu Akbar!’ dan

‘Bebaskan Palestina!’
Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi

dusta, menebarkannya ke media cetak dan

elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi

di padang pasir belantara, membangkangit reso-

lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-

bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser

Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun

berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at

sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh

dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,

yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu

dengan kukuh kita bacalah

‘laquwwatta illa bi-Llah!’
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu

Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu

Serasa terdengar di telingaku.

[cnnindonesia/islamedia]