Mengenal Mayjen S Mengga

August 16, 2015 by abahzaky2014

S. MENGGA ALATTAS (PUANG MENGGA)

   
 Mengingat Perjuangan Habaib dalam Kemerdekaan Indonesia
S. MENGGA ALATTAS (PUANG MENGGA)
RIWAYAT HIDUP
S. Mengga lahir di kampung Lawarang, tanggal 28 Agustus 1926 (versi S. Mengga, tahun 1922). Initial “S” di depan namanya adalah singkatan dari kata Sayyid; sebuah sebutan khas bagi orang Arab keturunan Nabi MUHAMMAD SAW.

Ayah S. Mengga, adalah Sayyid Muhsin Alattas. Sedang ibunya bernama Hj. Cilla, salah seorang keturunan bangsawan Mandar dari garis keturunan Mara’dia Alu yang juga Mara’dia Balanipa yang ke-43, yaitu I Ga’ang atau Tomessu’ dengan gelar anumerta Tomatindo di Lekopa’dis. I Ga’ang adalah putra Mara’dia ke-36 bergelar anumerta Tomate Macci’da (mangkat tiba-tiba).

Dari pernikahan Sayyid Muhsin Alattas dengan Hj. Cilla, lahir 4 (empat) orang anak, yaitu: H.S. Husain Alattas (Puang Kosseng), H.S. Mahmud Alattas (Puang Mengga), Hj. Syarifah Berlian Alattas (Puang Barlian), dan H.S. Kaharuddin Alattas (Puang Bela). Sedang pernikahan Sayyid Muhsin dengan St. Saoda, lahir 2 (dua) orang putra yaitu: Sayyid Abdullah Alattas dan Sayyid Ali Alattas.

Sayyid Muhsin, selain menikahi 2 (dua) orang putri Mandar (Hj. Cilla dan Saoda), juga menikahi seorang gadis Jawa yang memberinya keturunan sepasang putri kembar bernama Syarifah Masna Alattas dan Syarifah Noer Alattas. Kedua saudari perempuan S. Mengga yang kembar ini menetap di pulau Jawa.
S. Mengga menikah beberapa kali, dari pernikahan tersebut beliau dianugerahi seorang putri yang diberi nama Sundari (Hj. Syarifah Sundari Alattas). Pernikahan S. Mengga yang ketiga, yaitu dengan Hj. Nyilan. Dari pernikahannya, beliau memiliki 3 (tiga) orang anak, yaitu Syarifah Asiah S. Mengga (istri Prof. H. Umar Shihab), Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, dan Ir. Aladin S. Mengga (Wagub Sulawesi Barat).
Nama asli S. Mengga adalah H. S. Mahmud bin Muhsin Alattas. S. Mengga sendiri mempunyai nama resmi yang tertulis dalam kartu keanggotaannya di TNI Angkatan Darat, dengan NRP. 18234 adalah Said Mengga.
Nama “Mengga” adalah julukan (gelar). Mengga adalah kosakata (dialek) Pannei yang berarti “batas”. Gelar ini diberikan oleh sesepuh masyarakat Karombang sebagai penghargaan leluhur terhadap salah seorang sanak keturunannya. Secara genealogis, salah seorang leluhur S. Mengga memang berasal dari keturunan hadat Karombang (wilayah Kecamatan Bulo).
Selain itu, Mengga dalam kosakata bahasa Balanipa Mandar berarti warna “Merah”(mamengga). Julukan ini boleh jadi dianalogikan dengan karakter pribadi Sayyid Mahmud Muhsin Alattas tersebut, yang terkesan “mamengga” (merah), yang artinya “berani”.
Masa-masa kecil hingga remaja S. Mengga banyak dilewati di Kampung Lawarang danPambusuang. Kalau Pambusuang dikenal dengan kultur masyarakatnya yang religius, maka Lawarang dikenal dengan kultur masyrakatnya yang tempramental. Boleh jadi karakter pribadi S. Mengga adalah akulturasi “darah panas” dari Lawarang dan tuah “ulama” dari Pambusuang.
Dari kondisi lingkungan yang demikian, S. Mengga tumbuh menjadi seorang remaja kampung yang tampan, kharismatik, berwibawa, bersahabat, dan berani berkorban dan tanpa mempersoalkan status sosial seseorang yang dihadapinya. Oleh karenanya S. Mengga cukup disegani, bahkan menjadi idola di lingkungan pergaulannya.
Lingkungan pergaulan kampung yang labil, ikut berpengaruh dalam proses pendidikan formal S. Mengga. Di Mandar ia hanya sempat menempuh pendidikan di VVS lima tahun dan HIS selama dua tahun di kota Majene. Tapi, karena tindakan kriminal (manggayang pesarung) yang dilakukannya, ia terpaksa berurusan dengan hukum dan meninggalkan bangku sekolah.
S. mengga ditangkap polisi NICA dan dijebloskan ke rumah tahanan Majene. Di depan pemeriksaan polisi, S. Mengga yang saat itu baru berusia 16 tahun, bertanggung jawab sepenuhnya atas resiko perbuatan yang telah dilakukannya, bahkan mengakui perbuatannya itu sebagai sebuah pembuktian eksistensi dirinya telah menjadi seorang “laki-laki”. Beberapa lama ditahan di penjara Majene, S. Mengga kemudian diasingkan ke Jawa Barat sebagai salah seorang narapidana pemerintah kolonel Belanda di Penjara Sukamiskin (Jawa Barat), penjara yang sama yang pernah ditempati oleh Soekarno (Presiden Pertama RI) pada tahun 1930. Penjara yang dibangun pada tahun 1817 oleh pemerintah Hindia balanda.
Selepas menjalani masa hukuman di penjara Sukamiskin, S. Mengga berangkat ke Yogyakarta dengan maksud melanjutkan pendidikannya di sekolah Muhammadiyah. Setelah 3 (tiga) tahun menjalani masa pendidikan di sekolah itu, ia menyatakan berhenti dan tidak berhasrat untuk melanjutkan pendidikannya lagi. S. Mengga justru tinggal dan bekerja sebagai pelayan di rumah salah seorang Asisten Wedono di Yogyakarta.
Sebagai pelayan di lingkungan rumah tangga seorang Asisiten Widono, mengharuskan S. Mengga berprilaku sesuai tradisi dan tatakrama kraton Jawa. Kebiasaan “sungkem” dan telaten dalam setiap melaksanakan tugas kewajibannya sebagai abdi, telah menanamkan rasa disiplin yang tinggi dalam jiwanya.
Selepas tugas sebagai abdi, S. Mengga mencoba memasuki dunia kemiliteran. Kondisi Negara dan Bangsa Indonesia yang sedang berjuang mencari kemerdekaannya, menggugah hasrat heroisme yang membuncah di dadanya. Untuk itu S. Mengga dan teman-temannya, kemudian memilih bergabung pada beberapa organisasi kelaskaran di pulau Jawa. Antara lain menjadi anggota laskar pejuang di daerah Lawang, Jawa Timur selama kurang lebih dua tahun.
PERJUANGAN DI MILITER
Tahun 1945 S. Mengga menjadi anggota Laskar Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Salah satu organisasi kelaskaran yang mewadahi para pemuda pejuang di daerah Mandar yang bereaksi keras terhadap kehadiran tentara NICA.
Tahun 1946, S. Mengga kembali tertangkap oleh tentara sekutu dan lagi-lagi dijebloskan ke penjara Majene, tentu saja pengawasan terhadap S. Mengga dan kawan-kawannya cukup diperketat. Namun S. Mengga bisa lari dari penjara berkat bantuan rekan seperjuangannya, seperti Kaco Tandung, Maccing dan Belle.
Tahun 1984, S. Mengga menjadi anggota kelaskaran KRIS Muda Mandar. KRIS Mudaadalah sebuah organisasi perjuangan yang dibidani kelahirannya oleh Andi Depu (Mara’dia Balanipa ke-52), pada tanggal 17 Oktober 1946.
Tahun 1952 (3 September), S. Mengga beserta 155 anggota pasukannya di lantik dan diresmikan sebagai APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Sulawesi) di Tinambung oleh Kepala Staf TT-VII Letkol J.F. Warrouw, dengan nama kesatuan “Pasukan Mandar”.
Sebagai tindak lanjut Pemgumuman Panglima TT-VII Nomor: 30339/7/IX/32 tentang peresmian Pasukan Mandar, pimpinan S. Mengga itu, dikeluarkan Surat penetapan Pd. Panglima TT-VII Indonesia Timur Nomor: 80/pers/70/353 tentang Penetapan Kepangkatan dan Jabatan Personil Mandar (Kompie G) pimpinan Letda S. mengga. Kompi G Pasukan mandar, pimpinan Letda S. Mengga, bagi sebagian besar kalangan masyarakat Mandar lebih populer (akrab) dengan sebutan “Pasukan Mengga”. Identifikasi (julukan) ini, boleh jadi karena popularitas sosok pribadi S. Mengga sebagai komandannya. Julukan serupa terjadi pada “Pasukan Usman Balo”, “Pasukan Hamid Ali”, “Pasukan Andi Singke”, “Pasukan Daeng Pagessa” dan yang lainnya. Julukan seperti itu memang lazim digunakan di masa revolusi. Tujuannya, untuk lebih meningkatkan kewibawaan seorang pemimpin pasukan ketika itu.
Naik Pangkat
Lima bulan setelah dilantik dan resmi ditugaskan di wilayah Pare-pare, Kompi G Bn. 708 pimpinan Letda S. Mengga dimutasi ke Batalion 709 di Watampone, hanya bertugas kurang dari 1 tahun, karena pada tanggal 31 Juni 1954, ia dipindah-tugaskan ke Makassar sebagai Kepala Bagian Peralatan dan Mesiu Batalion 709. Menjelang akhir tahun 1957, Letda S. Mengga kembali dimutasi ke Batalion 708 ROI-I di Pare-pare, sebagai Kepala Bagian IV. Dalam waktu yang sama Letda. S. Mengga sekaligus ditunjuk sebagai pejabat Komandan Kompi Markas Bn. 708. Pengankatan sebagai Komandan Kompie Markas Pare-pare ini tertuang dalam Surat Keputusan Panglima KODPSST Nomor: 148/12/1957.
Dalam jabatan ini, Letda. S. Mengga dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Satu (Lettu). Kenaikan pangkat ini, merupakan realisasi dari Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI Nomor: MP/54/1957, yang berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1956. Kenaikan pangkat S. Mengga ke Letnan Satu (Lettu) merupakan kenaikan pangkat yang pertama kali baginya, setelah kurang lebih enam tahun menyandang pangkat Letnan Dua (Letda).
Tahun 1959. Lettu S. Mengga dipindahkan ke Palopo sebagai Wakil Komandan Batalion 402-ROI I. Penugasan beliau ke Palopo berdasarkan Surat Keputusan Panglima KD-MSST Letkol Andi Mattalatta Nomor: 0158/II/59.
Setelah bertugas selama kurang lebih satu tahun di Palopo, Lettu S. Mengga mendapat surat perintah ke Kolaka (Sulawesi Tenggara) sebagai pejabat Komandan “Batalion Remadja”.
Terhitung 1 Januari 1960, Lettu S. Mengga dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten, sebagai realisasi dari Surat Keputusan KSAD Nomor: 251/12/1960. Surat Keputusan KASD tentang kenaikan pangkat S. Mengga tersebut, kemudian dtindak-lanjuti dengan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), tanggal 3 Agustus 1963.
S. Mengga kemudian ditugaskan oleh Panglima KDMSTT sebagai Kepala Seksi Keamanan pada Kantor Penguasa Perang Daerah (Peperda) Sulawesi Selatan Tenggara di Makassar.
Semasa bertugas di Peperda (1962-1964) itu, beliau banyak membantu pengusaha (orang mandar), khususnya mendapatkan fasilitas “Delivery Order” (DO) barang-barang komoditas, seperti benang, gula pasir, dan terigu yang distribusinya dikordinasikan oleh Peperda. Dari Kepala Seksi Keamanan Peperda Sulawesi Selatan Tenggara, S. Mengga ditugaskan ke Kabupaten Majene sebagai Kepala Staf Kodim 1402. Beliau sekaligus ditunjuk sebagai Ketua Cabang LVRI Kabupaten Daerah Tingkat II Majene.
Terhitung mulai tanggal 1 Januari 1965, Kapten S. Mengga dipindahkan kembali ke Makassar, sebagai Perwira Menengah (Pamen) pada Staf Kodam XIV/Hasanuddin. Dari situ, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor, berdasarkan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat No: TR-0370/1965.
Dalam posisi “non job” (Pamen). Panglima Kolonel M. Jusuf, mengangkat Mayor S. Mengga sebagai Asisten Pribadi (Aspri) Panglima Kodam XIV/Hasanuddin. Jabatan ASPRI ini dijabat dari tahun 1966 hingga tahun 1969, hingga masa kepemimpinan Brigjen Solichin GP sebagai Pangdam XIV/Hasanuddin. Hikmah terdalam yang didapatkan S. Mengga sebagai Aspri, adalah bertautnya jalinan pribadi antara dirinya dengan M. Jusuf dan Solichin GP. Dua figur Panglima Kodam XIV/Hasanuddin yang dikaguminya.
MENJADI KOMANDAN

Berdasarkan Radiogram Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Nomor: R-03072/1969, Mayor S. Mengga dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Setelah itu ia diberi amanah sebagai Komandan Kodim 1409 Gowa/Takalar oleh Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Brigjen Sayidiman.
Mengabdi di Kampung Halaman Lalu Pensiun
Dari Kodim 1409 Gowa Takalar, Letkol S. Mengga kembali ke daerah asalnya sebagai Komandan Kodim 1402 Polmas. Jabatan yang diembannya dari tahun 1972-1974 ini, juga tidak terlepas dari sentuhan (pembangunan) seorang S. Mengga. Program partisipasi pembangunan teritorial Kodim 1402 yang dicanangkan. S. Mengga mendapat respon dan apresiasi masyarakat, serta dukungan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Polmas, Abdullah Majid. Fokus pembangunan diarahkan S. Mengga pada rehabilitasi selokan dan drainase di beberapa tempat, antara lain selokan Pasar Campalagian dan Pasar Tinambung.
Komandan Kodim 1402 Polmas adalah jabatan terakhir yang disandang Letkol S. Mengga sebagai militer aktif. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Nomor: Skep.002/XIV/II/1978, Letkol S. Mengga diberhentikan dengan hormat dari Dinas Militer, terhitung tanggal 1 Oktober 1975, dengan hak pensiun. Pensiun dari dinas militer tidaklah berarti menyurutkan langkah pengabdian S. Mengga kepada masyarakat Mandar yang dicintainya. Setelah pensiun S. Mengga melangkah pasti ke Pare’deang, untuk mewujudkan cita-citanya sebagai petani, diatas ratusan hektar areal perkebunannya. Hasil sebagai petani, tentu saja telah memberikan kehidupan layak bagi S. Mengga dan keluarganya. Dan tidak sedikit dana pribadi S. Mengga (dari hasil bertani) telah disumbangkan untuk berbagai kepentingan pembangunan.
DARI PETANI KE BUPATI

Setelah kurang lebih lima tahun bermukim sebagai petani di Pare’deang, S. Mengga mendapat kepercayaan dari rakyat menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Polmas periode 1980-1985. Meskipun pada awalnya tidak bersedia, tetapi akhirnya ia menerima amanah rakyat itu dengan sebuah tekad: “Membangun Polmas dari tidurnya yang panjang”.
Penghargaan Yang Diterimanya
Dalam kurung waktu kurang lebih 50 tahun pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara, S. Mengga telah menerima sejumlah tanda jasa dan bintang penghargaan. Sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan, ia menerima Bintang Gerilya, Satya Lencana dan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia, serta Bintang Penghargaan dari DHD Angkatan 45 Sulawesi Selatan.
Sebagai Perwira TNI Angkatan Darat, S. Mengga menerima Medali Sewidu APRI, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana Kesetiaan 8 dan 16 tahun, Satya Lencana GOM III dan IV, Satya Lencana Penegak, Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Dharma, serta Sam Karya Nugraha dari Panglima Kodam XIV/Hasanuddin.
AKHIR HAYAT

S. Mengga yang sampai akhir hayatnya masih menjabat sebagai Ketua Markas Daerah Legiun Veteran RI (LVRI) Kabupaten Polmas, mengisi hari-hari tuanya dengan mengurus perkebunannya yang luas di Pare’deang. Beliau menikmati hobi dan kegemarannya, sepertit memelihara satwa/binatang ternak.
Dalam usianya yang ke 83 tahun, S. Mengga meninggal dunia dengan tenang di Rumah Sakit Akademis Makassar pada hari Jumat tanggal 13 April 2007, sekitar jam 01.30 malam, karena sakit. Jasad beliau dimakamkan di depan Masjid At-Taqwa Pambusuang pada Sabtu, tanggal 14 April 2007, dalam suatu upacara kebesaran militer, dipimpin Komandan Korem 142 Taro Ada Taro Gau; mewakili Pangdam VII Wirabuana. Di makam yang sama juga terdapat makam saudara(i)nya; Puang Kosseng, Puang Barlian, Puang Bela, juga terdapat makam Andi Baso Mara’dia Balanipa ke-51 dan beberapa keluarga bangsawan Balanipa Mandar.
sumber: 

dikutip dan diedit ulang dari buku “Biografi Kolonel Purnawirawan S. Mengga Dari Gurilla Sampai Bupati” 

karya Thalib Banru ~

MAYJEN SALIM S. MENGGA ALATTAS

A). Profil
Lahir di Pambusuang, 62 tahun silam pada tanggal 24 Agustus 1951, Kampung Para Ulama dan Tokoh Nasional, seperti ulama tersohor KH. Muhammad Saleh dan KH. Muhammad Tahir Imam Lapeo, dan juga Prof. DR. Baharuddin Lopa, SH.

Salim S. Mengga adalah anak dari Kolonel Purnawirawan S. Mengga, yang merupakan Tokoh Militer dan Tokoh Pejuang di Tanah Mandar dan ibunya bernama Hj. Nyilang., putra kedua dari tiga bersaudara, yaitu:
Syarifah Asia S. Mengga (Almarhumah Istri Prof. DR. Umar Shihab, MA).
Ir. Aladin S. Mengga (Wakil Gubernur Sulawesi Barat).

Salim S. Mengga mempunyai 3 (tiga) orang anak dari hasil pernikahannya dengan Hj. Fatmawaty, sosok wanita yang sederhana dan murah senyum merupakan cucu tokoh terpandang dari daerah Bone Soppeng H. Beddu Solo. Yaitu:
Mega KamilaErfan KamilAmira Kamila

Keluarga Salim S. Mengga Alattas

Darah pejuang yang mengalir deras diurat nadinya, karena ia adalah putra dari Kolonel S. Mengga, Tokoh Militer dan Tokoh Pejuang di Tanah Mandar ini serta “THE FOUNDING FATHER IN POLMAS Peletak Dasar Pembangunan di Polmas” dan Peraih PRASAMYA PURNA KARYA NUGRAHA.

S. Mengga sebagai Bupati Polmas (Sekarang Polman) periode 1980-1990, membuat jargon “Tarrare Di Allo Tammatindo Di Wongi, Mappikkirri Atuwoanna Paqbanua”. Usai jam kerja di kantor, pantang pulang ke rumah jabatan. Ia turun ke pelosok, ia mendengar keinginan rakyatnya dan memonitor pelaksanaan pembangunan yang dicanangkan yaitu tujuh prioritas pembangunan, yakni: Pertanian, Perkebunan (S. Mengga lah yang memperkenalkan Kakao di Polmas, termasuk Kelapa Hibryda), Perikanan, dan Tambak, Dunia Usaha (Perdagangan), Pengangkutan (transportasi), Komunikasi dan Pengembangan Industri Kecil (industri rakyat).

Berkat kerja keras dan senantiasa mengunjungi rakyatnya, maka pertumbuhan ekonomi Polmas saat itu naik rata-rata 5,67%, sedang income perkapita penduduk meningkat dari Rp.230.000 (diakhir Pelita III) menjadi Rp.385.000 sampai Rp.500.000 (diakhir Pelita IV).

Keberhasilan spektakuler itu ditandai dengan Kabupaten Polmas mendapatkan PRASAMYA PURNA KARYA NUGRAHA.

Peletakan dasar itulah, sehingga tidak heran jika Mayor Jenderal Salim S. Mengga begitu memahami dan mencintai daerah ini, makapanggilan nuraninya lebih besar untuk kembali dan membangun kampung halaman, Tanah Mandar tercinta, mengalahkan daya tarik kerier militer yang dimilikinya saat itu.

Ketaatan beragama, kewibawaan sikap mandiri dan merakyat, adalah perpaduan dari garis keturunan sang kakek (Bapak dan Ibu S. Mengga), bernama Sayyid Muhsin Al Attas dan neneknya Hj. Cilla, seorang bangsawan Mandar dari keturunan Arajang Balanipa ke-12 Pammarica. Sehingga Salim S. Mengga begitu fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan taat menjalankan ibadah shalat lima waktu, dibanyak tempat sering memberikan cerama-ceramah agama.

Khutbah Shalat IED di Simpang Lima Semarang Tahun 2005
Sikap merakyat dan rendah hati, itulah yang menonjol dalam sikap keseharian Salim S, Mengga, senantiasa mendengarkan keluh kesah para anak buah, serta bergaul dan bermasyarakat dimanapun dia bertugas.

Maka tidak heran disaat akan meninggalkan pos jabatannya di tempat tertentu (baik sebagai DanYot Kavaleri Ambarawa, Dandim Demak dll) sangat dielu-elukan dan di iringi oleh isak tangis para bawahan yang beliau tinggalkan.

Memimpin Latihan bersama Kavaleri se Asia
Bahkan ketika Salim S. Mengga menjabat Kasdam IV Diponegoro, para Ulama se-Jawa Tengah menghadap Panglima, meminta beliau untuk menduduki jabatan Pangdam IV Diponegoro, hal itu membuktikan bahwa Mayor Jenderal Salim S . mengga sangat disenangi oleh masyarakat Jawa Tengah khususnya para Kiyai disana, kerana beliau orang yang dianggap JUJUR DAN MERAKYAT.

B). Riwayat Pendidikan
SD : Tahun 1964SMP : Tahun 1967SMA : Tahun 1970

C). Riwayat Pendidikan Militer
AKABRI : Tahun 1974SUSSAARCAB KAVALERI : Tahun 1975SUSSPAHARSAT : tahun 1977TARDANKI : Tahun 1979TARKORBANTEM : Tahun 1981SUSLAPA KAVALERI : Tahun 1984SUSGUKIL : Tahun 1985SESKOAD : Tahun 1990SUSGATI SUSPOL : Tahun 1995LEMHANAS : Tahun 2001

D). Riwayat Kepangkatan 
Letnan Dua  ; 01 12 1974 ; KEP/152/ABRI/1974Letnan Satu ; 01 04 1977 ; SKEP/398/IV/1977Kapten ; 01 10 1980 ; SKEP/649/X/1980Mayor ; 01 04 1985 ; SKEP/420/V/1985Letnan Kolonel ; 01 04 1991 ; SKEP/116/III/1991Kolonel ; 01 04 1996 ; KEPRES NO.17/ABRI/1996Brigadir Jenderal ; 15 03 2001 ; KEPRES RI NO.18/TNI/2001Mayor Jendral ; 24 10 2003 ; SKEP Pang. TNI NO.SKEP/342/X/2003

E). Riwayat Jabatan
Dantor Denkaves DAM XIV Hasanuddin 01-07 1975 SKEP/546/VII/1975Dantor IKI 101 Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-10978 SKEP/183/X/1978Dankima Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-01 1981 SKEP/OL/I/1981Kasi 4 Log Yonkav 10 DAM XIV Hasanuddin 01-06 1983 SKEP/232/VI/1983Gumil Gol IV Pusdikkav 01-05 1984 SKEP/216/IV/1984Kasi Trakor Dirbinsen Pussenkav 01-09 1985 SPIRIN/711/X/1985Wadan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-01 1986 SKEP/199/III/1986Kasdim 0711/REM/ 071 DAM IV Diponegoro 01-02 1984 SKEP/216/IV/1989Gumil Gol V Pusdikkav 01-06 1990 SKEP/203/V/1990Dan Yonkav 2 Serbu DAM IV Diponegoro 01-08 1991 SKEP/320/VIII/1991Dandim 0716 Demak REM 073 DAM IV Diponegoro 12-06 1993 SPRIN/811/VI/1993WAAS Sospol Kodam IV Diponegoro 01-10 1994 SKEP/390/X/1994Assospol Kodam IV Diponegoro 06-12 1995 SKEP/462/XII/1995Danrem 141/Toddopuli DAM VII Wirabuana 15-08 1997 SKEP/459/VII/1997DAN Pussenkev 15-02 2001 SKEP/99/II/2001Kasdam IV Diponegoro 01-02 2003 SKEP/30/II/2003Wadan Kodiklat TNI AD 30-10 2003 SPRIN/1669/X/2003Pangdam XVI Pattimura

F). Tanda Penghargaan
Satya Lencana Kesetiaan VIII THSatya Lencana Kesetiaan XVI THSatya Lencana Kesetiaan XXIV THBintang Kartika Eka Paksi NararyaSatya Lencana Dwidya SisthaBintang Yudha Dharma Nararya
Mayjen Salim S. Mengga bersama Ibu Megawati Soekarno Putri sedang mengamati latihan bersama Kavaleri se Asia TenggaraMayjen Salim S. Mengga sedang mempresentasekan format dan strategi pada latihan koordinasi Kavaleri di depan Megawati Soekarno PutriMayjen Salim S. Mengga bersama KASAD Ryamizad Riacudu pada RAKOR Mabes TNI – AD
G). Kecintaan Pada Daerah Mengalahkan Jabatan
NEKAD…!!! Kata sebagian besar kalangan. Bahkan banyak yang geleng-geleng kepala hamper tidak percaya…

Ketika Mayor Jenderal Salim S. Mengga mengambil LANGKAH TEGAS dengan rela meletakkan semua jabatannya sebagai PANGDAM XVI PATTIMURA maupun pada jabatan WADAN KODIKLAT TNI AD.

Sebagian besar kalangan menyayangkan langkah tersebut, karena karier militer beliau masih memungkinkan meraih pangkat TIGA BINTANG (LETNAN JENDERAL).

Ketika sebagian kalangan menanyakan kepada Mayor Jenderal Salim S. Mengga:
“Apa alasan yang mendasari kepulangan beliau untuk kembali ke tanah kelahirannya, sementara jabatan kerier militer masih begitu bersinar?”

Jawaban tegas beliau mengatakan:
“Justru panggilan nurani saya untuk kembali ke Provinsi Sulawesi Barat, karena daerah ini masih baru dan tidak memiliki apa-apa… Dengan segala kemampuan yang saya miliki, Insya Allah akan saya sumbangkan demi kemajuan daerah ini kedepan”

Niat dan Tekad beliau sangat mulia, namun sangat disayangkan beliau belum mendapat kesempatan.

Sekarang beliau adalah Ketua Umum Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) dan Anggota DPR-RI (mewakili daerah pemilihan Sulawesi Barat).

H). Prof. DR. H. Umar Shihab
Salim S. Mengga dimata seorang Prof. DR. H. Umar Shihab (Tokoh Nasional dan Ketua MUI di Jakarta):

Salim S. Mengga memiliki kewibawaan yang merakyat dan merupakan satu-satunya putra Mandar yang ditetapkan sebagai Pangdam di Indonesia (Pangdam XVI Pattimura). Dan dalam sikap hidup kesehariannya sangat tidak suka kehidupan yang glamour atau hura-hura.

Ada 5 hal yang menonjol pada diri Salim S, Mengga:
Sederhana dan Merakyat, karena dimanapun dia berada selalu bergaul dan mendekati masyarakat di lingkungannya.Taat Beragama.Selalu mau belajar.Memiliki jiwa kebapakan dan mengayomi.Tegas dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diemban.

👍👍👍